Tampilkan postingan dengan label sma negeri 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sma negeri 1. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Desember 2014

Kepala SMAN 1 Maros Bantah Ada Pungli

Media Pembaharuan Marros,- Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Maros, Drs Muslimin ZN membantah adanya Pungutan Liar (Pungli) terhadap orang tua siswa di sekolahnya.
SMAN 1 Maros“Kami memang memungut dana kepada orang tua siswa yang dianggap mampu untuk diposkan kedalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS) untuk menunjang kinerja para guru yang bekerja diluar jam sekolah,” bantahnya saat ditemui, Senin (15/12/2014),
Menurutnya, pihak sekolah sesuai permintaan komite menyusun program beserta anggarannya untuk tahun 2015 mendatang dimana jika disetujui oleh komite, maka program tersebut berjalan dan jika tidak maka akan dihapuskan.
“Kami diminta oleh komite untuk menyusun program dan juga anggarannya, kalau dianggap tidak penting boleh dicoret oleh mereka, jadi tidak ada pemaksaan,” ujarnya.
Sebelumnya, salah seorang orang tua siswa menuding pihak sekolah telah melakukan praktek Pungli kepada siswa, meskipun telah ada Bantuan Operasional Sekolah (Bos) dan dana gratis sudah didapatkan dari pemerintah.

Sabtu, 13 Desember 2014

Orang Tua Siswa Keluhkan ‘Biaya Siluman’ di SMA 1 Maros

Media Pembaharuan Maros,- Salah seorang wali siswa di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Maros yang enggan disebutkan namanya membeberkan praktek Pungli dan dana siluman oleh pihak sekolah kepada orang tua siswa.
Pungli di SekolahDari keterangan yang diperoleh, pihak SMA 1 Maros yang menjadi salah satu sekolah unggulan ini masih saja menerima pungutan yang tidak jelas kepada orang tua siswa lewat komite sekolah, padahal dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) sudah ada.
“Mereka (Pihak Sekolah) meminta biaya lewat komite, alasannya sih sukarela tapi guru-guru memaksa dan mengancam murid jika orang tuanya tidak membayar,” beber orang tua siswa kepada Wartawan, Sabtu (13/12/2014).
Lebih lanjut, pihak guru lewat wali kelas akan menekan siswa yang orang tuanya protes dengan keputusan pihak sekolah tersebut dan tak jarang mengancam siswa tidak mendapatkan kartu ujian dan lain-lain yang memaksa orang tua siswa terpaksa mengikuti keinginan sekolah.
“Kami serba salah, mau protes anak kami yang ditekan di sekolahnya, mereka diancam tidak dikasi kartu ujianlah atau apalah, makanya kami terpaksa saja jadi tolong jangan sebut nama saya yah,” himbaunya.
Diakuinya, ulah pihak sekolah yang semena-mena tersebut membuat orang tua murid dan juga komite sekolah tak berkutik dan serba salah dan ia berharap praktek seperti ini bisa diungkap oleh Dinas Pendidikan Maros.
“Masa untuk tambahan honor guru dan staf dipungut dari orang tua siswa, padahal guru kan digaji sama negara, kenapa mesti minta lagi sama orang tua siswa,” pungkasnya.