Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Desember 2014

Pemilihan Calon Bupati Rawan Konflik


Foto: Kamis, 4 Desember 2014
Pemilihan Calon Bupati Rawan Konflik
Gerindra Perketat Proses Seleksi

Media Pembaharuan Makassar,- Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sulsel, La Tinro La Tunrung menyakini pelaksanaan 10 Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Sulawesi Selatan (Sulsel) rawan terjadi konflik.Perpecahan tersebut bersumber dari proses verifikasi calon yang akan diusung di internal partai. "Biasanya konflik atau perpecahan di internal partai terjadi pasca penetapan siapa calon yang akan kita usung," kata La Tinro, saat dikonfirmasi, Selasa, (2/12) kemarin.
La Tinro menambahkan, biasanya perpecahan itu muncul karena adanya ketidakpuasan kader dalam penentuan calon, meski penetapan sudah melalui proses mekanisme yang berlaku di internal partai.Namun untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya akan lebih selektif serta memperketat proses penjaringan dan penyaringan di partainya."Dalam penentuan calon semua tetap mengacu pada survei," pungkasnya. 
Ketua Bawaslu Sulsel Laode Arumahi, pun menuturkan hal sama. Menurutnya, Pilkada 2015 rawan mengundang konflik. Hal itu berdasar terhadap adanya tiga daerah yang dianggap masuk dalam zona merah."Memang ada  sejumlah daerah di Sulsel rawan terjadi konflik," kata Laode. Kendati demikian, sebut Laode, sejauh ini pihaknya belum mengidentifikasi daerah mana saja yang dianggap masuk dalam zona merah. "Bukan hanya tiga kabupaten tetapi semua daerah yang menggelar Pilkada serentak dianggap riskan," ujarnya.
Dilansir sebelumnya, Koordinator JPPR Sulsel Zulkarnaen menyebut ada tiga daerah yang masuk dalam zona merah. Daerah dimaksud yakni Kabupaten Tana Toraja, Soppeng, dan Gowa.Zulkarnaen menjelaskan, penyebab terjadinya konflik di daerah tersebut disebabkan karena sosialisasi calon kandidat terkesan melakukan penyimpangan. Penyimpangan yang dimaksud itu, bahwa dalam sosialisasi para kandidat gencar melakukan propaganda-propaganda yang melenceng dari program serta visi-misi yang akan dicanangkan.Selain itu, para kandidat juga dianggap tidak dewasa dalam memberikan pendidikan politik terhadap masyarakat."Seperti banyaknya money politik yang dilakukan demi menggalang suara dukungan.
Cara-cara inilah yang harus dihilangkan agar proses demokrasi kedepannya semakin bagus," kata Zulkarnaen.Dia menjelaskan, untuk mengantisipasi serta meminimalisir agar peristiwa pembakar sejumlah k
antor KPU tidak lagi terjadi di tahun depan. Sebaiknya menurut Zulkarnaen,  Bawaslu dan KPU Sulsel dapat bekerjasama dengan pihak kepolisian melakukan deteksi dini terhadap tiga daerah tersebut."Antisipasi ini perlu dilakukan agar tidak berimbas ke daerah lainnya yang menggelar pilkada serentak seperti Kabupaten Barru, Pangkep,Luwu, Lutra, dan Selayar," pungkasnya.
Selain wilayah zona merah, Zulkarnaen juga meminta agar penyelenggara pemilu bersikap netral. Pasalnya selama ini banyak dijumpai penyelenggara melakukan pelanggaran kode etik.Oleh itu, kedepan diharapkan proses seleksi penyelenggara pemilu dilakukan secara ketat dan lebih selektif agar proses demokrasi kedepan bisa lebih baik lagi. (ABS)
Photo Ketua DPD Gerinra

Media Pembaharuan Makassar,- Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sulsel, La Tinro La Tunrung menyakini pelaksanaan 10 Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Sulawesi Selatan (Sulsel) rawan terjadi konflik.Perpecahan tersebut bersumber dari proses verifikasi calon yang akan diusung di internal partai. "Biasanya konflik atau perpecahan di internal partai terjadi pasca penetapan siapa calon yang akan kita usung," kata La Tinro, saat dikonfirmasi, Selasa, (2/12) kemarin.
La Tinro menambahkan, biasanya perpecahan itu muncul karena adanya ketidakpuasan kader dalam penentuan calon, meski penetapan sudah melalui proses mekanisme yang berlaku di internal partai.Namun untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya akan lebih selektif serta memperketat proses penjaringan dan penyaringan di partainya."Dalam penentuan calon semua tetap mengacu pada survei," pungkasnya.
Ketua Bawaslu Sulsel Laode Arumahi, pun menuturkan hal sama. Menurutnya, Pilkada 2015 rawan mengundang konflik. Hal itu berdasar terhadap adanya tiga daerah yang dianggap masuk dalam zona merah."Memang ada sejumlah daerah di Sulsel rawan terjadi konflik," kata Laode. Kendati demikian, sebut Laode, sejauh ini pihaknya belum mengidentifikasi daerah mana saja yang dianggap masuk dalam zona merah. "Bukan hanya tiga kabupaten tetapi semua daerah yang menggelar Pilkada serentak dianggap riskan," ujarnya.
Dilansir sebelumnya, Koordinator JPPR Sulsel Zulkarnaen menyebut ada tiga daerah yang masuk dalam zona merah. Daerah dimaksud yakni Kabupaten Tana Toraja, Soppeng, dan Gowa.Zulkarnaen menjelaskan, penyebab terjadinya konflik di daerah tersebut disebabkan karena sosialisasi calon kandidat terkesan melakukan penyimpangan. Penyimpangan yang dimaksud itu, bahwa dalam sosialisasi para kandidat gencar melakukan propaganda-propaganda yang melenceng dari program serta visi-misi yang akan dicanangkan.Selain itu, para kandidat juga dianggap tidak dewasa dalam memberikan pendidikan politik terhadap masyarakat."Seperti banyaknya money politik yang dilakukan demi menggalang suara dukungan.
Cara-cara inilah yang harus dihilangkan agar proses demokrasi kedepannya semakin bagus," kata Zulkarnaen.Dia menjelaskan, untuk mengantisipasi serta meminimalisir agar peristiwa pembakar sejumlah kantor KPU tidak lagi terjadi di tahun depan. Sebaiknya menurut Zulkarnaen, Bawaslu dan KPU Sulsel dapat bekerjasama dengan pihak kepolisian melakukan deteksi dini terhadap tiga daerah tersebut."Antisipasi ini perlu dilakukan agar tidak berimbas ke daerah lainnya yang menggelar pilkada serentak seperti Kabupaten Barru, Pangkep,Luwu, Lutra, dan Selayar," pungkasnya.
Selain wilayah zona merah, Zulkarnaen juga meminta agar penyelenggara pemilu bersikap netral. Pasalnya selama ini banyak dijumpai penyelenggara melakukan pelanggaran kode etik.Oleh itu, kedepan diharapkan proses seleksi penyelenggara pemilu dilakukan secara ketat dan lebih selektif agar proses demokrasi kedepan bisa lebih baik lagi. (ABS)

Selasa, 02 Desember 2014

INCE LANGKE, Ingin Selayar Lebih Maju

Dr. (HC) H. Ince Langke IA, S.Pd.MM.Pub, Anggota Komisi C DPRD Provinsi Sulawesi-Selatan, akhirnya memutuskan maju dalam Pilkada Kepulauan Selayar dan tidak terdaftar sebagai caleg 2014.
Sikap politik ini disampaikan secara resmi oleh H. Ince Langke, setelah mempertimbangkan banyak hal, termasuk mendengarkan saran berbagai pihak dan didorong oleh cita-cita besar terhadap daerah tanadoang tercinta.
H. Ince Langke IA
H. Ince Langke
Dia menyadari sepenuhnya, bahwa tugas seorang bupati sangat berat dan membutuhkan kemampuan yang tidak sederhana.
Karena harus menanggung kelangsungan nasib 120.000 rakyat Kabupaten Kepulauan Selayar, yang akan menggantungkan harapannya untuk dapat mencapai martabat kesejahteraan yang lebih baik, maju, modern, berkeadilan dan mampu bersaing dengan daerah lain di seluruh pelosok negeri.
Kendati demikian, Ince selalu optimis dapat bersaing dengan rival-rivalnya. Politisi magnet dari semenanjung paling selatan Provinsi Sulsel ini, senantiasa tampil percaya diri dengan berbekal kemampuan dan pengalamannya sebagai politisi.
Dia telah puluhan tahun menduduki kursi jabatan sebagai anggota DPRD kabupaten, bahkan sempat menduduki kursi Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Selayar.
Sejak 2009 Ince Langke menjadi anggota DPRD Provinsi Sulawesi-Selatan dengan mewakili suara seratus dua puluh ribu rakyat Kabupaten Kepulauan Selayar serta ribuan konstutiennya di Kabupaten Sinjai dan Bulukumba.
Ince juga tercatat pernah memimpin sejumlah organisasi kemasyarakatan dan organisasi politik, termasuk diantaranya, partai politik terbesar di daratan Kabupaten Kepulauan Selayar, yaitu Partai Golkar.
Sebagai tokoh organisasi maupun anggota DPRD kabupaten Kepulauan selayar dan Provinsi Sulawesi-Selatan, sedikit banyak, Ince Langke telah mengenali kondisi wilayah dan memiliki kemampuan pengenalan serta kedekatan pada rakyat Selayar.
Ince berharap, kebersamaan dan dukungan semua pihak untuk menjemput kebangkitan bersama dengan berlandaskan pada semangat kekompakan serta nilai-nilai luhur yang tersirat melalui rangkaian Motto “Selayar Mapan Mandiri” (Menata Arah Masa Depan, Masyarakat Adil dan Makmur di Bawah Ridho Ilahi).
“Disertai harapan besar, akan segera terwujudnya Kabupaten Kepulauan Selayar menjadi surga berdayasaing tinggi di tengah laut, yang menjadi impian semua pihak,” tandas mantan Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Selayar ini. (ABS).


Profil Singkat
Nama Lengkap       : H. Ince Langke IA
Tempat/Tgl lahir    : Benteng Selayar 20 September 1860
Tempat Tinggal/ Kediaman:
Alamat Makassar :
Komp.Perumahan BPH Plaza Blok E2/2 (Jln Rifky ) Kota makassar,Prov sul-sel
Alamat Selayar  :
Jl.jenderal Ahkmad yani,benteng Selayar Prov Sul-Sel

Pendidikan
  • Menyelesaikan pendidikan tingkat SD-SMP-SMA di kota Selayar
  • Menyelesaikan S1 dan S2 di Kota makassar
Organisasi/Jabatan Politik
  • Pernah menjadi Ketua Dpd KNPI Selayar ( 2 Periode )
  • Ketua DPC Gema MKGR
  • Ketua FKKT
  • Ketua Harian DPD AMPI
  • Ketua PMI
  • Ketua DPD Partai Golkar Selayar ( 2 Periode )
  • Wakil Ketua DPD 1 Partai golkar Sulsel
Pengalaman Kerja
  • Anggota DPRD Kabupaten Selayar (3 Periode)
  • Wakil Ketua DPRD Kabupaten Selayar (1 Periode)
  • Anggota DPRD Provinsi Sul-sel sampai sekarang (tahun 2013)
Sumber: www.incelangke.com