Minggu, 12 April 2015

Penyebaran Islam Oleh Nurdin Ariyani Atau Datuk Ri Tiro

Media Pembaharuan,- Dari cerita orang tua, bahwa masuknya islam di tanah bugis makassar itu karena datangnya tiga orang ulama yang berasal dari Koto Tangah, Minangkabau. Diantaranya Datuk ri Tiro yang bernama asli Nurdin Ariyani/Abdul Jawad dengan gelar Khatib Bungsu adalah seorang ulama dari Koto Tangah, Minangkabau yang menyebarkan agama Islam ke kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan serta Kerajaan Bima di Nusa Tenggara, sejak kedatangannya pada penghujung abad ke-16 hingga akhir hayatnya. Dato ri Tiro, sesuai dengan budaya di bagian selatan ini, kemudian menyebarkan Islam yang lebih bercorak tasawuf. Dalam penerapannya, beliau tidak terlalu mementingkan keteraturan syariat. Salah satu ajaran beliau yang terkenal adalah “dalam menyusun lima telur, yang pertama diletakkan tidak selalu yang menempati urutan pertama”. Artinya, penerapan lima rukun Islam tidak lah harus berurutan mulai dari syahadat sampai haji. Setiap kita boleh memilih apa yang kita rasa lebih memudahkan. Puasa, jika pun dirasakan lebih mudah daripada shalat, dapat dilakukan terlebih dahulu, demikian pula dengan syariat-syariat yang lain.
    Perlu disampaikan pula bahwa masyarakat daerah ini sangat kuat memegang kepercayaan dinamisme, dan banyak memiliki kesaktian dan jampi-jampi yang mujarab. Menurut kisah yang diteruskan secara turun temurun, Dato ri Tiro memilih daerah Bontotiro pesisir sebagai pusat penyebaran agama Islam. Daerah ini adalah daerah tandus dan berbatu. Beliau kemudian mencari sumber air (karena ternyata daerah ini dialiri oleh sungai bawah tanah dengan kapasitas yang besar), dengan menancapkan tongkat beliau pada batu dan memancarlah air. Sumber air ini kemudian menganak-sungai, yang kemudian disebut dengan Sungai Salsabila, mengambil nama salah satu sungai yang terdapat di Surga.
    Setelah mendapatkan kepercayaan dari seluruh masyarakat di Bontotiro melalui “keajaiban” yang ditampilkannya, beliau kemudian menghadap pada Karaeng Tiro, raja yang berkuasa di daerah ini dengan maksud mengislamkan sang raja. Tapi karena Karaeng Tiro dalam keadaan sakaratul maut, maka Dato ri Tiro langsung menuntun sang raja untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Dalam tiga kali percobaan pengucapan, Karaeng Tiro selalu salah mengucap; “Asyhadu allaa hila hila hilaa”, dan baru pada pengucapan keempat beliau dapat melafazkannya dengan benar. Karena peristiwa ini, dusun tempat tinggal Karaeng Tiro kemudian dinamakan Dusun Hila-Hila. Sampai akhir hayatnya, Dato ri Tiro menghabiskan hidup beliau di dusun ini.
    Dato ri Tiro kemudian melanjutkan dakwahnya menuju daerah Kajang. Daerah ini adalah daerah adat yang diperintah oleh Ammatoa. Daerah ini adalah daerah yang paling kuat memegang adat, bahkan hingga hari ini. Para penduduk daerah ini menggunakan pakaian hitam-hitam dan tidak mengijinkan perkembangan teknologi memasuki daerah mereka. Pada proses dakwahnya, Dato ri Tiro kemudian berhasil mengislamkan daerah ini. Tapi karena proses yang belum selesai, ada beberapa kesalahpahaman yang timbul. Salah satunya adalah kepercayaan penduduk Kajang bahwa Al-Qur’an diturunkan pertama kali di daerah ini, karena Dato ri Tiro membawa Kitab Suci Al-Qur’an ke daerah ini pada saat proses dakwah berlangsung. Hal lainnya adalah falsafah sufi yang mereka pegang kuat; “Sambayang tamma tappu, je’ne tamma luka”, yang artinya “Shalat yang tak pernah putus, wudhu yang tak pernah batal”. Hal ini mengisyaratkan penguasaan hakikat shalat dan wudhu yang mensyaratkan kondisi suci lahir-batin serta menyebarkan kebaikan kepada seluruh alam semesta. Puasa Ramadhan yang mereka jalani pun cuma tiga hari; awal, pertengahan dan akhir ramadhan saja. Hal ini dapat dimaklumi karena mungkin Dato ri Tiro tidak ingin memberatkan mereka pada awal mereka masuk Islam.
    Demikianlah, dari dusun Hila-hila di Kecamatan Bontotiro ini, Dato ri Tiro menyebarkan cahaya Islam yang sangat inklusif sehingga ajaran-ajaran beliau tentang Islam yang mensyaratkan kebaikan kepada alam semesta dapat terus diamalkan. Setelah beberapa lama melaksanakan dakwah Islam, akhirnya Khatib Bungsu atau Datuk ri Tiro pun wafat di tanah kajang akan tetapi beliau dimakamkan di bonto tiro. Adapun peninggalan-peninggalan beliau adalah Sungai Salsabila yang terus diziarahi pengunjung sampai sekarang, Sumur Limbua di pantai Tiro, serta Makam Dato ri Tiro yang juga tetap diziarahi sampai hari ini. Peninggalan beliau yang dalam bentuk social capital adalah ikatan persaudaraan yang beliau bentuk antara orang Tiro dan orang Kajang; “Kaluku attimbo ri Kajang, bua na a’dappo ri Tiro”, “Pohon kelapa yang tumbuh di Kajang, buahnya dinikmati di Tiro”. artinya : kebaikan yang dilakukan oleh datuk ritiro menciptakan, memupuk  dan mempererat tali persaudaraan antara orang tiro dengan orang kajang.
     Karena itu, upacara akil baligh orang-orang kajang disyaratkan untuk mandi di Sungai Salsabila di Hila-hila.

Sejarah Perahu Phinisi Bulukumba, Sulawesi Selatan

Media Pembaharuan,- Jika sebelumnya saya sudah bercerita tentang Bulukumba yaitu tentang suku ammatoa. Kali ini saya akan membahas salah satu ciri khas kota bulukumba yang mungkin namanya sudah mendunia, tak lain adalah Kapal Phinisi.
Bercerita soal kapal Phinisi memang cukup menarik perhatian kita, apalagi jika bercerita soal sejarah Kapal Phinisi.  Berikut adalah sejarah Kapal Phinisi.
BONTOBAHARI berarti “Tanah Laut”, tempat ini adalah surga bagi para nelayan, mayoritas penduduknya menggantungkan hidupnya pada laut. Maka, jangan heran tentang kepiawaian penduduk setempat merakit kapal laut dan kehebatannya dalam membangun tradisi bahari selama ratusan tahun. Tempat ini berada sekitar 200km dari selatan kota Makassar. Nah, karena tangan-tangan kreatif inilah, lahir julukan Butta Panrita Lopi (Negeri para pembuat Perahu).
 Kisah tentang perahu Phinisi dari desa tanah beru dan desa Bira (kec,bontobahari Bulukumba Sul-sel) adalah sebuah Legenda. Kisah mereka bukanlah sesuatu yang asing lagi. Namun jarang yang mengetahui tentang bagaimana sejarah dan tradisi panjang ini dibangun oleh nenek moyang, pun dengan kehebatan Para pelaut ulung tersebut. Budaya tersebut didasarkan pada penciptaan perahu pertama oleh nenek moyang mereka.
Alkisah dalam mitologi masyarakat tanah beru, nenek moyang mereka menciptakan sebuah perahu yang lebih besar untuk mengarungi lautan, membawa barang-barang dagangan dan menangkap ikan. Saat perahu pertama dibuat, dilayarkanlah perahu di tengah laut. Tapi sebuah musibah terjadi di tengah jalan. Ombak dan badai menghantam perahu dan menghancurkannya. Bagian badan perahu terdampar di dusun ara, layarnya mendarat di tanjung bira dan isinya mendarat di tanah lemo.
Peristiwa itu seolah menjadi pesan simbolis bagi masyarakat desa ara. Mereka harus mengalahkan lautan dengan kerjasama. Sejak kejadian itu, orang ara hanya mengkhususkan diri sebagai pembuat perahu. Orang bira yang memperoleh sisa layar perahu mengkhususkan diri belajar perbintangan dan tanda-tanda alam. Sedangkan orang lemo-lemo adalah pengusaha yang memodali dan menggunakan perahu tersebut. Tradisi pembagian tugas yang telah berlangsung selama bertahun-tahun itu akhirnya berujung pada pembuatan sebuah perahu kayu tradisional yang disebut phinisi.
Kini keyakinan mistis terhadap mitologi kuno itu masih kental dalam setiap proses pembuatan phinisi. Diawali dengan sebuah ritual kecil, perahu phinisi dibuat setelah melalui upacara pemotongan lunas. Upacara itu dipimpin seorang pawang perahu yang disebut panrita lopi.Berbagai sesaji menjadi syarat yang tak boleh ditinggalkan dalam upacara ini seperti semua jajanan harus berasa manis dan seekor ayam jago putih yang masih sehat. Jajanan menimbulkan keinginan dari pemilik agar perahunya kelak mendatangkan keuntungan yang tinggi. Sedikit darah dari ayam jago putih ditempelkan ke lunas perahu. Ritual itu sebagai simbol harapan agar tak ada darah tertumpah di atas perahu yang akan dibuat.
Kemudian, kepala tukang memotong kedua ujung lunas dan menyerahkan kepada pemimpin pembuatan perahu. Potongan ujung lunas depan di buang ke laut sebagai tanda agar perahu bisa menyatu dengan ombak di lautan. Sedang potongan lunas belakang di buang ke darat untuk mengingatkan agar sejauh perahu melaut maka dia harus kembali lagi dengan selamat ke daratan. Pada bagian akhir, panrita lopi mengumandangkan doa-doa ke hadapan sang pencipta.

Penyebaran Islam Oleh Abdul Makmur Atau Datuk Ribandang

Media Pembaharuan,- Penyebaran Islam di wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) tidak bisa dilepaskan dari peran Datuk Ri Bandang. Islam menjadi agama mayoritas rakyat Gowa- Tallo pada awal abad ke 17 karena pengaruh ulama asal Minangkabau ini. Ulama ini hijrah dari Minangkabau bersama dua rekannya, yakni Khatib Sulung Datuk Sulaiman atau Datuk Patimang dan Syekh Nurdin Ariyani atau Datuk Tiro. Nama terakhir ini juga dikenal dengan Jawad Khatib Bungsu. Datuk ri Bandang yang bernama asli Abdul Makmur dengan gelar Khatib Tunggal adalah seorang ulama dari Koto Tangah, Minangkabau yang menyebarkan agama Islam ke kerajaan-kerajaan di wilayah timur nusantara, yaitu Kerajaan Luwu, Kerajaan Gowa, Kerajaan Tallo dan Kerajaan Gantarang (Sulawesi) serta Kerajaan Kutai (Kalimantan) dan Kerajaan Bima (Nusa Tenggara). Datuk ri Bandang bersama dua orang saudaranya yang juga ulama, yaitu Datuk Patimang yang bernama asli Datuk Sulaiman dengan gelar Khatib Sulung dan Datuk ri Tiro yang bernama asli Nurdin Ariyani dengan gelar Khatib Bungsu dan seorang temannya, Tuan Tunggang Parangan melaksanakan syiar Islam sejak kedatangannya pada penghujung abad ke-16 hingga akhir hayatnya ke kerajaan-kerajaan yang ada di timur nusantara pada masa itu.
    Pada awalnya, Datuk ri Bandang berdakwah di Makassar (Kerajaan Gowa, Sulawesi), tapi karena situasi masyarakat yang belum memungkinkan dia pergi ke Kutai (Kerajaan Kutai, Kalimantan), dan melaksanakan syiar Islam bersama temannya, Tuan Tunggang Parangan di kerajaan tersebut. Namun akhirnya dia kembali lagi ke Gowa karena melihat kondisi yang juga belum kondusif. Temannya, Tuan Tunggang Parangan tetap bertahan di Kutai, dan akhirnya berhasil mengajak Raja Kutai (Raja Mahkota) beserta seluruh petinggi kerajaan masuk Islam.
    Setelah kembali lagi ke Makassar, Datuk ri Bandang bersama dua saudaranya Datuk Patimang dan Datuk ri Tiro menyebarkan agama Islam dengan cara membagi wilayah syiar mereka berdasarkan keahlian yang mereka miliki dan kondisi serta budaya masyarakat Sulawesi Selatan atau Bugis/Makassar ketika itu. Datuk ri Bandang yang ahli fikih berdakwah di Kerajaan Gowa dan Tallo, sedangkan Datuk Patimang yang ahli tentang tauhid melakukan syiar Islam di Kerajaan Luwu, sementara Datuk ri Tiro yang ahli tasawuf di daerah Tiro dan Bulukumba
    Pada mulanya Datuk ri Bandang bersama Datuk Patimang melaksanakan syiar Islam di wilayah Kerajaan Luwu, sehingga menjadikan kerajaan itu sebagai kerajaan pertama di Sulawesi Selatan, Tengah dan Tenggara yang menganut agama Islam. Kerajaan Luwu merupakan kerajaan tertua di Sulawesi Selatan dengan wilayah yang meliputi Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur serta Kota Palopo, Tana Toraja, Kolaka (Sulawesi Tenggara) hingga Poso (Sulawesi Tengah).
    Dengan pendekatan dan metode yang sesuai, syiar Islam yang dilakukan Datuk ri Bandang dan Datuk Patimang dapat diterima Raja Luwu dan masyarakatnya. Bermula dari masuk Islam-nya seorang petinggi kerajaan yang bernama Tandi Pau, lalu berlanjut dengan masuk Islam-nya raja Luwu yang bernama Datu' La Pattiware Daeng Parabung pada 4-5 Februari 1605, beserta seluruh pejabat istananya setelah melalui dialog yang panjang antara sang ulama dan raja tentang segala aspek agama baru yang dibawa itu. Setelah itu agama Islam-pun dijadikan agama kerajaan dan hukum-hukum yang ada dalam Islam-pun dijadikan sumber hukum bagi kerajaan.
    Setelah Raja Luwu dan keluarganya beserta seluruh pejabat istana masuk Islam, Datuk ri Bandang pergi dari Kerajaan Luwu menuju wilayah lain di Sulawesi Selatan dan kemudian menetap di Makassar sambil melakukan syiar Islam di Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng. Dakwah Islam yang dilaksanakan Datuk ri Bandang akhirnya juga berhasil mengajak Raja Gowa, I Manga'rangi Daeng Manrabia dan Raja Tallo, I Malingkang Daeng Manyonri beserta rakyatnya masuk Islam. Malingkaan Daeng Manynyonri,bersedia memeluk Islam. Dia merupakan orang pertama di Sulsel yang memeluk Islam melalui pengaruh Datuk Ribandang. Oleh karena itu pula Kerajaan Tallo sering disebut-sebut sebagai pintu pertama Islam di daerah ini. Penerimaan Islam secara resmi oleh Raja Tallo ini terjadi pada malam Jum’at 9 Jumadil Awal 1014 H /atau 22 September 1605 M. Setelah Raja Tallo memeluk Islam, menyusul Raja Gowa XIV Sultan Alauddin yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah proses pengislaman berlangsung di kalangan istana, Raja Gowa kemudian secara resmi mengumumkan bahwa Kerajaan Gowa dan seluruh daerah kekuasaannya resmi beragama Islam. Sejak saat itu pula, Datuk Ribandang diberi keleluasaan untuk mengajarkan Islam kepada rakyat Gowa-Tallo.
   Dikemudian sang ulama itu-pun akhirnya wafat dan dimakamkan di wilayah Tallo. Makam Datuk Ri Bandang dapat dijumpai di Jalan Sinassara, Kelurahan Kalukubodoa, Kecamatan Tallo, arah utara Kota Makassar. Bahkan, untuk mengenang jasa besar ulama ini, sebuah yayasan pesantren Islam yang menaungi sekolah dasar (SD) sekolah menengah pertama (SMP) dan Sekolah Menangah Atas (SMA) didirikan di Kecamatan Tallo, Makassar. 

Sejarah Penyebaran Islam Oleh Syech Yusuf Al-Makasari Di Tanah Afrika

Media Pembaharuan,- Jika ditanya Afrika Selatan, tentu hingar bingar Piala Dunia 2010 yang melekat dipikiran kita. Selain itu, Nelson Mandela. Ya, Afrika Selatan sebagai negara yang baru 16 tahun “merdeka” dari penindasan ala Apartheid kulit putih sudah mampu menyelenggarakan ajang besar Piala Dunia, yang, walau banyak kekurangan, adalah ajang bergengsi dan menaikkan prestise negara tuan rumah.
Apakah ada Indonesia disana? Sebagai tim yang ikut berlaga, tentu tidak. Namun disana ada Macassar, kampung Makassar-nya Afrika Selatan. Basis penyebaran Agama Islam oleh Syekh Yusuf, Ulama asal Makassar, Sulsel yang dibuang Belanda akibat menentang penjajahan, kurang lebih 300 tahun yang lalu. Di Macassar, ada sebuah tempat yang dinamakan “The Kramat”. The Holy Resting Place of Sheikh Yusuf Al Makassari, semacam kampung atau perkampungan Makassar di Afrika Selatan.
Kiprah Syekh Yusuf tidak diragukan lagi. Walau terbuang, beliau malah menyebarkan keindahan Islam di tanah Afrika. Sebagai pembawa Islam di negeri-nya Nelson Mandela ini, Syekh Yusuf melakukan syi’ar Islam dengan gigih kepada masyarakat setempat. Ketokohan Syekh Yusuf diakui luas oleh penduduk di Afrika Selatan jauh bahkan melebihi Kaum Boer (keturunan Belanda) yang menetap dan tinggal disana, serta membentuk pemerintahan Apartheid yang membedakan Kulit Hitam dengan Kulit Putih. Sesuatu yang didalam Islam tidak pernah ada, yang ada hanyalah pembeda berdasarkan Keimanan dan Ketaqwaan.
Jejak Syekh Yusuf dimulai sejak dilahirkan di Gowa, Sulawesi Selatan, 13 Juli 1627 dengan nama Muhammad Yusuf, diberikan oleh Sultan Alauddin dari Kerajaan Gowa sendiri. Muhammad Yusuf muda diajari ilmu-ilmu keagamaan di Cikoang, dan juga mengembara menimba ilmu diberbagai tempat termasuk berhaji di umur 18 tahun dan menetap sementara di Timur Tengah memperdalam agama Islam. Muhammad Yusuf banyak singgah di Nusantara sesuai rute perkapalan, dan salah satunya adalah ke Banten sebagai kerajaan pesisir dan bersahabat dengan seorang pemuda, putera mahkota Banten, yang kelak bergelar Sultan Ageng Tirtayasa. Perjalanan dakwah beliau juga sampai ke Aceh dan Gujarat, India. Serta berguru di Yaman, Damaskus, dan Turki. Begitu banyak ulama menjadi gurunya, dan di Aceh, beliau langsung menempa ilmu dari Syekh Nuruddin Ar Raniri. Popularitas Yusuf dan lautan intelektualitas beliau dihargai banyak masyarakat dengan sebutan Syekh Yusuf Al Makassari berdasarkan dari asalnya, Makassar. Kadang ada juga yang menambahkan memberikan gelar kehormatan Al Bantani (dari Banten) yang lazim dipakai juru dakwah dan ulama.
Petualangan dakwah Syekh Yusuf mencapai titik tertentu dimana beliau merasa perlu untuk berjihad melawan penjajah di nusantara. Hal ini salah satunya karena kekalahan Gowa melawan penjajah belanda, dan sahabatnya, kini bergelar Sultan Agung Tirtayasa asal banten memerlukan bantuan beliau. Akhirnya, bersama pasukan Banten, Syekh Yusuf yang didaulat menjadi Mufti Banten, turut berjuang menentang penjajahan Belanda di Pulau Jawa. Dipecah belah oleh Belanda, sehingga Sultan Ageng berperang melawan Putranya sendiri, Sultan Haji, dan kalah pada tahun 1682, Syekh Yusuf dan pengikutnya, tentara-santri berjumlah 5000-an orang asal Bugis, Makassar dan pendekar Banten bergerilya selama dua tahun hingga ditangkap Belanda dan dibuang ke Batavia. Karena pengaruhnya yang besar, Syekh Yusuf dibuang lagi ke Sri Lanka (Ceylon). Di Sri Lanka, perjuangan Syekh Yusuf semakin menjadi-jadi. Karena Ceylon merupakan tempat persinggahan jamaah haji, maka Syekh Yusuf masih dapat menjalin komunikasi dengan Nusantara dan para pengikutnya. Para kafilah haji inilah yang membawa karya-karya Syekh Yusuf ke negeri kita
Gabungan ulama intelektual dan pemimpin perang dengan leadership tinggi, Syekh Yusuf dibuang ke negeri yang lebih jauh, agar pengaruhnya hilang di Asia. Syeikh Yusuf beserta rombongan pengikutnya berjumlah hampir lima puluh orang tiba di Tanjung Harapan tanggal 2 April 1694 dengan menumpang kapal Voetboog, yang mana Kapten Kapal tersebut, Van Beuren, kebangsaan Belanda, pun di-Islamkan oleh beliau dan ikut menetap di Afrika Selatan bersama keturunannya yang muslim.
Syeikh Yusuf al-Makassari di tempatkan di Zandvliet, desa pertanian di muara Eerste Rivier, dengan tujuan supaya tidak bisa berhubungan dengan orang-orang Indonesia yang telah datang lebih dahulu. Disana, Syeikh Yusuf al-Makassari membangun pemukiman di Cape Town yang sekarang dikenal sebagai Macassar.
Di Afrika Selatan, Syeikh Yusuf al-Makassari tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Ketika ia wafat pada tanggal 23 Mei 1699 beliau dimakamkan di Faure, Cape Town. Berdasarkan catatan juru kunci makam, berita meninggalnya Syekh Yusuf beredar luas, termasuk ke tanah Goa (sekarang Gowa). Pihak kerajaan dan bangsawan Gowa pun memulangkan jenazah wali Allah tersebut.

Proses pemulangan jenazah Syekh Yusuf bukan perkara mudah. Pasalnya, kata Rahmat, pemulangan itu tidak mendapat restu dari pemerintah Kompeni. "Masih ada ketakutan dari penjajah akan munculnya semangat perlawanan dari Nusantara jika dipulangkan," kata Rahmat.

Negosiasi pemulangan jenazah Syekh Yusuf yang dilakukan oleh Raja Gowa, Sultan Abdul Jalil, berhasil enam tahun kemudian, atau tepatnya tahun 1705. Itupun, konon, ada syarat yang harus dipenuhi: yang bisa kembali ke Nusantara adalah anak-anaknya yang berusia lima tahun ke bawah.

Dalam perjalanan pulang itulah, jenazah Syekh Yusuf sempat disinggahkan di beberapa tempat, seperti Sri Lanka, Banten, Sumenep (Madura), terakhir di Makassar. Daerah-daerah itu dikenal  banyak tinggal murid dan pengikut tarekat Khalwatiyah.

"Di setiap daerah yang disinggahi, maka para pengikut dan murid berinisiatif membuat makam sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan. Makanya makam Syekh Yusuf itu diyakini di beberapa tempat," jelas Rahmat.

Ia juga meyakinkan, bahwa jasad yang asli itu berada di Makassar. Sedangkan makam di Sri Lanka, itu berupa jubah dan sorban, di Banten, yang dimakamkan adalah tasbih, dan makam di Sumenep, juga berupa jubah dan sorban.

"Kalau di Afrika itu ditegaskan sebagai makam awalnya sebelum dipindahkan ke Makassar," tambahnya.

Sebagai pelabuhan terakhir, Syekh Yusuf kini dimakamkan di Lakiung, atau saat ini lebih dikenal dengan Ko'bang, yang berada di Jalan Syekh Yusuf, perbatasan Gowa dan Makassar.

Saat ini, makam wali besar Sulawesi Selatan ini sungguh sangat dihormati, dihargai,
dan dijaga keberadaanya. Setiap harinya, makam tersebut ramai dikunjungi masyarakat, yang berasal dari penjuru dunia.

Kedatangan warga tersebut adalah untuk berziarah, semata-mata mengharap keramat dari almarhum Syekh Yusuf. Apalagi jika mereka meniatkan sesuatu serta ada keinginan dan harapan yang tercapai, seperti nazar.

Dalam sejarahnya, Syekh Yusuf merupakan pendiri ajaran tarekat khalwatiyah. Kemudian, Syekh Yusuf juga berhasil mendapat dua penghargaan sebagai pahlawan nasional dari Indonesia pada 9 November 1996 dan dari pemerintah Afrika Selatan pada 23 September 2005.

"Afrika Selatan memang sangat berterima kasih pada Syekh Yusuf karena ajaran Islam di sana yang tidak membedakan warna kulit. Dia di sana bahkan digelar As-salam,".

Makam Syekh Yusuf berada dalam sebuah kompleks. Untuk menandai makam tersebut, dibangun sebuah kubah, dikenal dengan Ko'bang, berukuran 11 x 11 meter persegi.
Dalam kubah tersebut terdapat 11 makam termasuk Syekh Yusuf. Sedangkan lainnya adalah istri dari Sultan Gowa, I Sitti Daeng Nisanga, yang berada di sisi kiri dan Raja Gowa, Sultan Abdul Jalil, yang berperan besar memulangkan jenazah Syekh Yusuf.

Sembilan makam lainnya adalah pengikut dan kerabat dari Syekh Yusuf, yang masing-masing bernama Mappadulung Daeng Mattimung, Karaengta Panaikang, Syekh Abd. Basyir, Tuang Loeta, I Lakiung, Tanri Daeng, Tanri Uleng, Tanri Abang dan Daeng Ritasammeng


Makam tersebut kini menjadi cagar budaya yang harus dipeliharan karena dilindungi Undang-undang.

Sabtu, 28 Maret 2015

Ini cara bedakan razia kendaraan yang resmi dan ilegal oleh polisi

Ini cara bedakan razia kendaraan yang resmi dan ilegal oleh polisiMedia Pembaharuan Semarang,- Empat anggota Polsek Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, dijatuhi sanksi setelah tertangkap basah menggelar razia lalu lintas di luar wilayah hukumnya, yakni di perbatasan antara Kabupaten Semarang dan Temanggung.

Kapolrestabes Semarang Komisaris Besar Djihartono di Semarang, mengatakan keempat anggota tersebut melanggar disiplin karena menggelar razia di luar wilayahnya.

Pengamat Kepolisian Bambang Widodo Umar mengimbau masyarakat untuk lebih teliti ketika pihak Kepolisian melakukan razia. Sebab pemeriksaan kelengkapan surat kendaraan yang resmi dapat dilakukan atas dasar perintah atasan.

"Kalau resmi ada surat perintah operasi (razia) sehingga jelas kapan waktu, tempat dan biaya yang dikeluarkan. Terorganisir dan terstruktur. Terus ada sasarannya," ungkapnya saat dihubungi merdeka.com, Kamis (26/3).

Warga yang bingung dengan adanya razia kendaraan bisa menanyakan mengenai surat perintah pengadaan operasi. Sebab pihak berwenang tidak boleh menyembunyikan hal tersebut dari masyarakat.

"Tanyakan aja 'ini operasi atau apa pak?' Tidak ada rahasia," tegasnya.

Namun, Bambang menambahkan, seseorang polisi tetap harus bertindak saat mengetahui adanya pelanggaran. Hal ini tidak perlu membutuhkan surat perintah.

"Kalau polisi bekerja dan menemukan kekeliruan itu dilakukan penindakan. Wajib menindak kalau tidak malah keliru," tutupnya.

Sedangkan Kasubdit Bingakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Hindarsono menambahkan, pihak kepolisian memiliki wewenang untuk melakukan razia sehingga semua operasi kendaraan yang dilakukan adalah resmi.

"Semua razia yang dilakukan oleh petugas Kepolisian RI resmi," katanya melalui pesan singkat.

Jumat, 27 Maret 2015

Harga Premium Naik Jadi Rp7.300 Mulai Pukul 00.00 Malam Ini


AFP PHOTO / SONNY TUMBELAKA Pengendara motor mengantre di SPBU untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis premium, di Bali, Selasa (26/8/2014). Kelangkaan BBM mulai muncul di beberapa daerah menyusul wacana kenaikan harga BBM karena komsumsi BBM melebihi batas maksimal 46 juta kiloliter.
Media Pembaharuan Menado,- Pemerintah kembali melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) per tanggal 28 Maret 2015 pukul 00.00 dan Pertamina menjamin stok aman. "Mulai besok, BBM mengalami kenaikan sebesar Rp500 per liter," kata Customer Relation MOR VII Pertamina Sulawesi, Ibnu Adiwena, di Manado, Jumat (27/3/2015).
Harga premium menjadi Rp7.300 per liter, sementara harga solar menjadi Rp6.900 per liter, terjadi penyesuaian harga premium dan solar sebesar Rp 500 per liter.
Harga premium sebelumnya ada Rp6.800 per liter sedangkan solar Rp6.400 per liter.
Adapun perubahan tersebut, katanya, mengacu Keputusan Menteri ESDM No2486/K/12/MEM/2015. (Baca: Dirut Pertamina: Kenaikan Harga BBM Diumumkan Sore Ini)
Menanggapi perubahan harga tersebut, katanya, Pertamina MOR VII Sulawesi memastikan bahwa pasokan BBM di Sulawesi aman dan mencukupi.
Stok premium mencapai 94.000 kilo liter (KL) dan stok solar mencapai 87.000 KL.
"Masyarakat tidak perlu khawatir karena stok mencukupi untuk memenuhi kebutuhan di Sulawesi", tegasnya. (Baca: Menteri ESDM Klaim Harga Keekonomian Minyak Naik)
Ke depan, katanya, masyarakat harus sudah mulai terbiasa dengan dinamika perubahan harga BBM.
Sementara untuk harga LPG non subsidi 12 Kg tidak mengalami pergerakan harga. Harga LPG 12 Kg masih tetap dikisaran Rp138.200 per tabung untuk area Makassar dan sekitarnya. (Baca: Yaman Memanas, Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi 3 Pekan)
"Pertamina MOR VII juga menjamin bahwa kebutuhan LPG di Makassar dan Sulawesi aman dan mencukupi, stock LPG mencapai 9000 MT," pungkasnya.

Komedian dan Presenter, Olga Syahputra‬ Meninggal Dunia

'Olga meninggal, tagar #RIPOlgaSyahputra menjadi trending topic dunia

Media Pembaharuan Jakarta - Komedian sekaligus presenter Olga Syahputra meninggal dunia hari ini setelah menjalani perawatan di rumah sakit di Singapura. Kepergian artis multi talenta tersebut dikabarkan langsung oleh manager Olga, Vera.

"Minta maaf kalau ada salah dari Olga," ujar manajer Olga, Vera saat wawancara di Net TV, Jumat (27/3).

Kabar meninggalnya Olga dengan cepat menjadi perbincangan. Di media sosial, tanda pagar #RIPOlgaSyahputra menjadi trending topic dunia.

Olga rencananya akan dimakamkan di daerah Pondok Kelapa atau Duren Sawit. Keluarga Olga saat ini masih syok terkait meninggalnya kerabatnya.

Seperti diketahui, Olga Syahputra sakit dan dirawat di rumah sakit Singapura. Olga sempat didiagnosa mengalami radang selaput otak atau meningitis oleh RSPI. Sesudahnya, ia menjalani perawatan di Singapura sejak April 2014.

Berikut cuitan netizen terkait kabar meninggalnya Olga Syahputra.

"Inalillahi wa inailaihi rojiun,,semoga dterima amal kebaikannya dan diampuni dosa"nya oleh ALLAH SWT. AMIIN.. #RIPOlgaSyahputra," tulis akun @koyand_tifosii, Jumat (27/3)

"#RipOlgaSyahputra salah satu komedian yg lucunya natural," tulis akun @FadhilMF_

"Selamat jalan olga syahputra semoga amal ibadahnya diterima disisinya aminnn #selamatjalanolga #RipOlgaSyahputra," cuit @yusfc.

"Selamat jalan Olga :( #RIPOlgasyahputra #olgasyahputra," tulis @AgnesWolahan.

"Semoga amal ibadah diterima disisi Allah :) amin #RipOlgaSyahputra," cuit @Fuzypilem.
[amn]'Media Pembaharuan Jakarta, - Komedian sekaligus presenter Olga Syahputra meninggal dunia hari ini setelah menjalani perawatan di rumah sakit di Singapura. Kepergian artis multi talenta tersebut dikabarkan langsung oleh manager Olga, Vera.
"Minta maaf kalau ada salah dari Olga," ujar manajer Olga, Vera saat wawancara di Net TV, Jumat (27/3).
Kabar meninggalnya Olga dengan cepat menjadi perbincangan. Di media sosial, tanda pagar #RIPOlgaSyahputra menjadi trending topic dunia.
Olga rencananya akan dimakamkan di daerah Pondok Kelapa atau Duren Sawit. Keluarga Olga saat ini masih syok terkait meninggalnya kerabatnya.
Seperti diketahui, Olga Syahputra sakit dan dirawat di rumah sakit Singapura. Olga sempat didiagnosa mengalami radang selaput otak atau meningitis oleh RSPI. Sesudahnya, ia menjalani perawatan di Singapura sejak April 2014.
Berikut cuitan netizen terkait kabar meninggalnya Olga Syahputra.
"Inalillahi wa inailaihi rojiun,,semoga dterima amal kebaikannya dan diampuni dosa"nya oleh ALLAH SWT. AMIIN.. #RIPOlgaSyahputra," tulis akun @koyand_tifosii, Jumat (27/3)
"#RipOlgaSyahputra salah satu komedian yg lucunya natural," tulis akun @FadhilMF_
"Selamat jalan olga syahputra semoga amal ibadahnya diterima disisinya aminnn ‪#‎selamatjalanolga‬ #RipOlgaSyahputra," cuit @yusfc.
"Selamat jalan Olga frown emotikon #RIPOlgasyahputra ‪#‎olgasyahputra‬," tulis @AgnesWolahan.
"Semoga amal ibadah diterima disisi Allah smile emotikon amin #RipOlgaSyahputra," cuit @Fuzypilem.
[amn]