Rabu, 15 April 2015

Panglima TNI Tegaskan Istri Prajurit TNI Boleh Jadi Bupati/Walikota

Media Pembaharuan Jakarta,- Mulai sekarang, istri para Prajurit TNI diperbolehkan untuk melakukan kegiatan politik, sehingga nanti ada yang bisa menjadi Bupati atau Gubernur. Sesuai dengan Surat Telegram Panglima TNI Nomor : ST/1378/XI/2014 tanggal 24 November 2014, Panglima TNI telah membuat kebijakan baru yaitu memberikan/mengembalikan hak politik bagi para istri-istri Prajurit TNI. Demikian dikatakan Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko selaku Pembina Utama Dharma Pertiwi pada acara Hari Ulang Tahun (HUT) Dharma Pertiwi ke-51, di Balai Sudirman Jakarta Selatan, Rabu (15/4/2015).
 
Panglima TNI menegaskan bahwa, di dalam Undang-Undang yang dilarang berpolitik praktis adalah prajurit TNI, sedangkan bagi istri Prajurit TNI tidak ada larangan dan hal tersebut diperbolehkan. Untuk itulah pada musyawarah nasional ke-12 beberapa waktu yang lalu, hal ini sudah dimasukkan dalam agenda program, untuk mempertegas dan memperjelas posisi istri Prajurit TNI boleh menggunakan hak politiknya.
 
Dalam kesempatan ini Panglima TNI mengucapkan terima kasih kepada para mantan Ketua Umum Dharma Pertiwi yang telah memberikan pijakan kuat di dalam membangun organisasi Dharma Pertiwi. “Dharma Pertiwi sampai saat ini telah eksis dengan baik dan sejalan dengan tugas pokok Panglima TNI”, ujarnya.
 
Lebih lanjut Jenderal TNI Moeldoko menyampaikan bahwa, tugas pokok Panglima TNI itu ada yang namanya Tugas Komando, yaitu: Pertama, tugas menyiapkan pasukannya agar siap tempur. Kedua, menjaga dan meningkatkan kesejahteraan. Ketiga, menjaga dan memelihara kesejahteraan prajurit dan keluarganya”, ungkap Jenderal TNI Dr. Moeldoko.
 
Sementara itu, Ketua Umum Dharma Pertiwi Ibu Koes Moeldoko dalam sambutannya menyampaikan, bahwa lima puluh satu tahun bukanlah waktu yang pendek. Perjalanan panjang pengabdian Dharma Pertiwi sebagai organisasi kemasyarakatan tetap konsisten dalam memperhatikan, membantu meningkatkan kepedulian sosial, pendidikan, dan kesejahteraan prajurit TNI beserta keluarganya. “Setiap kita memperingati hari ulang tahun, maka kita selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena masih diberikan kesempatan untuk melakukan instrospeksi dan evaluasi diri, terhadap apa yang telah kita laksanakan selama ini”, ungkapnya.
 
“Kesempatan ini hendaknya tidak dipandang sebagai kegiatan seremonial semata, akan tetapi justru saat inilah waktu yang tepat untuk memberikan makna yang lebih dalam dengan mengambil hikmah ulang tahun, sehingga dapat terus meningkatkan semangat serta komitmen pengabdian dalam memajukan organisasi Dharma Pertiwi”, tegas Ibu Koes Moeldoko.
 
Lebih lanjut Ibu Koes Moeldoko mengatakan bahwa peringatan HUT ke-51 Dharma Pertiwi tahun ini, mengetengahkan tema “Dengan Semangat Kebersamaan dan Kekeluargaan, Dharma Pertiwi Bertekad Meningkatkan Kepedulian Sosial, Pendidikan dan Kesehatan Guna Mewujudkan Kesejahteraan Keluarga TNI”. Tema ini membulatkan tekad segenap warga Dharma Pertiwi untuk lebih peduli kepada masalah-masalah sosial  guna meningkatkan kesejahteraan keluarga TNI pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
 
Adapun rangkaian kegiatan untuk memeriahkan HUT ke-51 Dharma Pertiwi, yaitu pemberian bantuan kepada anggota yang sakit, mengadakan Bakti Sosial dan Pengobatan Massal di daerah Serang Banten, pemberian bantuan Mobil Ambulance ke Rumah Sakit TNI, memberikan santunan kepada Warakawuri dan Anak Yatim, serta melaksanakan Donor Darah. Selain itu, dilaksanakan juga olahraga bersama Bola Volly, Pingpong dan Woodball. (red)














Senin, 13 April 2015

Bupati Maros Mutasi Kepala Sekolah


Foto PenggunaMedia Pembaharuan Maros,- Bupati Maros M Hatta Rahman memutasi dan melantik 88 kepala SD dan SMP se-Kabupaten Maros. Hatta Rahman menegaskan, mutasi dilakukan terkait Peraturan Kementrian Pendidikan Nasional (Permendiknas) yang mengharuskan mengganti ataupun memutasi kepala sekolah yang menjabat cukup lama.
Sebanyak 88 kepala sekolah itu terdiri atas 15 kepala SMP dan 73 kepala SD. Mereka dilantik di ruang pola Kantor Bupati Maros, Senin (13/04/2015). Hatta juga melantik tiga pengawas sekolah.
Dari 88 kepala sekolah, enam kepala sekolah diturunkan jabatannya menjadi guru biasa. “Sesuai Permendiknas, pemerintah harus memutasi kepala sekolah yang telah menjabat sebanyak dua periode. Bagi kepala sekolah yang memiliki prestasi baik dan telah menjabat dua periode, dimutasi lagi menjadi kepala sekolah yang memiliki akreditasi rendah,” kata Hatta.
Hatta menyebutkan, rencana mutasi kepala sekolah sudah direncanakan sejak tahun 2012. Setelah itu, Pemerintah Kabupaten Maros masih akan melakukan mutasi kepala sekolah tingkat SMA pekan depan. Mutasi dilakukan setelah ujian nasional berakhir.(*)

Suami Tewas Gantung Diri, Istri Histeris

Media Pembaharuan Makassar,- Jufri (33) warga Jalan Rege Tiga, Kelurahan Wala-walaya, Kecamatan Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan ditemukan tewas gantung diri di dalam kamarnya, Sabtu sore (11/4/2015).
Foto Andi Baso Pawiloi. Sang istri langsung histeris melihat suaminya telah tewas tergantung bahkan seorang saudara almarhum jatuh pingsan.
Diduga almarhum yang sehari harinya bekerja sebagai buruh bangunan ini mengakhiri hidupnya lantaran kehidupan ekonomi sehari harinya tidak mencukupi.
Aras salah seorang saksi mata mengaku melihat almarhum Jufri telah tewas tergantung setinggi dua meter di dalam kamarnya yang terkunci.
Kapolsekta Tallo Kompol Woro Susilo mengaku telah mendapatkan laporan dari keluarga almarhum dan tewasnya Jufri ini masih dalam penyelidikan pihak berwajib.
Sementara itu jenazah almarhum masih berada di rumah duka di Jalan Rege Tiga dan akan dimakamkan di Pemakaman Boroangin di Jalan Panampu Kecamatan Tallo, Makassar Minggu 12/4.

Kuli Bangunan Tewas Ditembak Orang Tak Dikenal

Media Pembaharuan Makassar,- Salah seorang warga, di Kota Makassar, tewas ditembak di Jalan Sultan Alauddin, Makassar,(13/4). Hingga kini, belum diketahui siapa penembak misterius tersebut.
Berdasarkan informasi yang terhimpun, diketahui korban bernama Mukram Muchtar (21), warga Alauddin Empat, Kota Makassar. Korban merupakan seorang kuli bangunan.
Foto Andi Baso Pawiloi. Penembakan korban membuat pihak keluarga bersedih. Mereka tidak pernah menyangka, jika korban akan meninggal dengan cara mengenaskan seperti itu. Saat ini, jenazah korban sudah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.
Hasil pemeriksaan medis sementara, diketahui penembakan mengenai perut sebelah kanan korban, setelah sebelumnya peluru menembus bagian bawa ketiak sebelah kiri korban. Saat dibawa ke rumah sakit, peluru itu masih bersarang diperut korban.
Ratusan kerabat dan keluarga korban yang mengetahui kejadian ini, tak kausa menahan tangis begitu melihat jasad anak kedua, dari lima bersaudara ini, di RSUD Bhayangkara Makassar.
Berdasarkan keterangan sejumlah saksi mata, pelaku penembakan di Jalan Sultan Alauddin itu berjumlah dua orang. Mereka menggunakan sepeda motor dan berboncengan. Kini, kasus tersebut diselidiki aparat kepolisian dari Polsek Tamalate.

Minggu, 12 April 2015

Ritual Sakral Angngaru Pada Silaturahmi di Malino

Media Pembaharuan Gowa,- Pada hari minggu, tanggal 12 April 2015 kemarin, Andi Maddusila mengadakan silaturahmi adat di Malino yang dirangkaikan dengan acara adat yang dikenal dengan nama Angngaru’. Angngaru’ merupakan ritual khusus yang juga merupakan ikrar atau sumpah setia kepada Rajanya. Angngaru’ ini berasal dari kata Aru’ yang diartikan bahasa Indonesa berarti melakukan “amuk”. Akan tetapi jika, kita melihat esensi dari arti Angngaru’ atau Aru’ itu sendiri, maka kita bisa mendapatkan kesimpulan bahwa arti dari Angngaru’ atau Aru’ adalah sebuah ikrar atau janji setia yang dilakukan oleh seorang to barani (prajurit atau panglima perang) dihadapan Rajanya.
anngaru1
Sebelum kita berlanjut mengenai kegiatan silaturahmi ini, kita akan sedikit membahasa mengenai budaya adat dari Gowa ini yaitu Angngaru’. Angngaru’ atau aru’ ini dimaksudkan untuk menunjukkan kesetian bawahan terhadap pimpinannya. Angngaru’ atau Aru’ sendiri jika diartikan secara lengkap dalam bahasa Indonesia adalah seorang To Barani (bahasa bugis prajurit pemberani) mencabut badiknya sambil menyanyikan dengan garang syair-syair sakral Angngaru’ (lihat syairnya dibawah) dihadapan sang Pemimpin atau Raja, To Barani yang sedang melakukan ritual adat yang sakral ini konon katanya tidak mempan oleh besi. Orang yang melakukan ritual ini bahkan menusukkan badik (senjata tajam khas bugis) ke leher atau tubuh mereka, namun badik yang tajam itu tidak dapat melukai sang To barani sedikit pun. Ritual Angngaru’ atau Aru’ ini diiringi dengan irama ganrang tunrung pakanjara’ (gendang tabuh amuk).
Di bawah ini Anda bisa melihat video ritual Angngaru’ ketika menyabut sang Raja Gowa yang ke 37 yaitu Andi Maddusila beserta syair dari Angngaru’ itu sendiri.
Syair Angngaru’ (Aru’)
Bismillahir rahmanir rahiim
Ata, karaeng
Tabe’ kipammopporang mama’
Ri dallekang labbiritta, ri sa’ri karatuanta, ri empoang matinggita
(Bismillahir rahmanir rahiim
Hamba, Sang raja
Permisi maafkan hamba
Didepan kemulian baginda, di samping kegembiraan Baginda, ditempat duduk tertinggi baginda)
Inakke mine karaeng, lapunna Moncongloe
Nakareppekangi sallang karaeng…, Pangngulu ri barugayya…
Nakatepokangi sallang karaeng…, Pasorang attangnga parang…
(Sayalah baginda, ayam jantan dari Moncongloe
Memecahkan nanti baginda,… hulu [hulu badik] di istana…
Mematahkan nanti baginda,… gagang tombak di tengah medan [medan pertempuran]….
Inai-inaimo sallang karaeng…, Tamappattojengi tojenga, Tamappiadaki adaka,
Kusalaagai sirinna, kuisara parallakkenna…
Berangja kunipatebba, pangkulu’ kunisoeyyang
(Siapa-siapa saja baginda…., yang tidak menjunjung kebenaran, yang tidak menjujnjung adat,
Saya Bajak kolong rumahnya, ku garuk rumahnya….
Saya lah parang siap ditebaskan, gagang [gagang pedang] siap di kibaskan)
Ikau anging karaeng, naikambe lekok kayu
Mirikko anging namarunang lekok kayu
Iya sani madidiyaji nurunang…
(Engkau angin baginda, dan hamba adalah daun kayu
Semilirlah angin yang menjatuhkan daun kayu
Daun kuning-lah engkau jatuhkan…)
Ikau je’ne’ karaeng, naikambe batang mammayu
Solongko je’ne’ namammayu batang kayu
Iya sani sompo bonangpi kianyu…
(Engkau Air baginda, dan hamba adalah sebongkah batang kayu yang hanyut
Mengalirlah air, menghayutkan sebongkah  batang kayu
Dan nanti jika sudah pasanglah air.. sebongkah kayu itu akan hanyut….)
Ikau jarung karaeng naikambe banning panjai’
Ta’leko jarung namminawang bannang panjai’
Iya sani lambusuppi nakontu tojeng…
(Engkaulah Jarum baginda, dan hamba adalah benangnya
Keseberanglah engkau jarum, dan benangnya akan  ikut
Yang luruslah yang benar)
Makkanamamaki mae karaeng naikambe mappa’jari
Mannyabbu’ mamaki karaeng naikambe mappa’rupa
(bertihtahlah baginda, dan hamba akan realisasikan
Menyebutlah baginda, dan hamba akan mewujudkannya)
Punna sallang takammaya aruku ri dallekanta’
Pangkai jerakku, tinra’ bate onjokku
Pauwang ana’ ri boko, pasang ana’ tanjari
Tumakkanayya’ karaeng natanarupai janjinna
(Jika nanti tidak saya mengingkari ikrar ini yang hamba ucapkan di depan baginda
Tandai Kuburanku, patoklah bekas kakiku
Ceritakan kepada keturunan, pesankan kepada seluruh keturunan
Yang berikrar baginda, tapi tidak menepati  ikrarnya)
Sikammajinne aruku ri dallekanta
Dasi nadasi nana tarima pa’ngaruku
Salama’
(demikianlah ikrarku didepan baginda
Semoga ikrar hamba diterima
Selamat)

SEJARAH TENTANG BAHASA INDONESIA

Media Pembaharuan,- Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam kerapatan Pemuda dan berikrar (1) bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia, (2) berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan (3) menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ikrar para pemuda ini dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. Unsur yang ketiga dari Sumpah Pemuda merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Pada tahun 1928 itulah bahasa Indonesia dikukuhkan kedudukannya sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945 karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 disahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Bahasa negara ialah bahasa Indonesia (Bab XV, Pasal 36).
Keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, antara lain, menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejak zaman dulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara.
Bahasa Melayu mulai dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7. Bukti yang menyatakan itu ialah dengan ditemukannya prasasti di Kedukan Bukit berangka tahun 683 M (Palembang), Talang Tuwo berangka tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi). Prasasti itu bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna. Bahasa Melayu Kuna itu tidak hanya dipakai pada zaman Sriwijaya karena di Jawa Tengah (Gandasuli) juga ditemukan prasasti berangka tahun 832 M dan di Bogor ditemukan prasasti berangka tahun 942 M yang juga menggunakan bahasa Melayu Kuna. Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa kebudayaan, yaitu bahasa buku pelajaran agama Budha. Bahasa Melayu juga dipakai sebagai bahasa perhubungan antarsuku di Nusantara dan sebagai bahasa perdagangan, baik sebagai bahasa antarsuku di Nusantara maupun sebagai bahasa yang digunakan terhadap para pedagang yang datang dari luar Nusantara. Informasi dari seorang ahli sejarah Cina, I-Tsing, yang belajar agama Budha di Sriwijaya, antara lain, menyatakan bahwa di Sriwijaya ada bahasa yang bernama Koen-louen (I-Tsing:63,159), Kou-luen (I-Tsing:183), K’ouen-louen (Ferrand, 1919), Kw’enlun (Alisjahbana, 1971:1089). Kun’lun (Parnikel, 1977:91), K’un-lun (Prentice, 1078:19), yang berdampingan dengan Sanskerta. Yang dimaksud Koen-luen adalah bahasa perhubungan (lingua franca) di Kepulauan Nusantara, yaitu bahasa Melayu. Perkembangan dan pertumbuhan bahasa Melayu tampak makin jelas dari peninggalan kerajaan Islam, baik yang berupa batu bertulis, seperti tulisan pada batu nisan di Minye Tujoh, Aceh, berangka tahun 1380 M, maupun hasil susastra (abad ke-16 dan ke-17), seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Tajussalatin, dan Bustanussalatin. Bahasa Melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara. Bahasa Melayu mudah diterima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antarpulau, antarsuku, antarpedagang, antarbangsa, dan antarkerajaan karena bahasa Melayu tidak mengenal tingkat tutur.
Bahasa Melayu dipakai di mana-mana di wilayah Nusantara serta makin berkembang dan bertambah kukuh keberadaannya. Bahasa Melayu yang dipakai di daerah di wilayah Nusantara dalam pertumbuhannya dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap kosakata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa. Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek. Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antarperkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa Melayu. Para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia (Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928). Kebangkitan nasional telah mendorong perkembangan bahasa Indonesia dengan pesat. Peranan kegiatan politik, perdagangan, persuratkabaran, dan majalah sangat besar dalam memodernkan bahasa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia secara konstitusional sebagai bahasa negara. Kini bahasa Indonesia dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Penyebaran Islam Oleh Datuk Sulaiman Atau Datuk ri Patimang

Media Pembaharuan,- Datuk patimang yang bernama asli Datuk Sulaiman dan bergelar Khatib Sulung adalah seorang ulama dari Koto Tangah, Minangkabau yang menyebarkan agama Islam, ke Kerajaan Luwu, Sulawesi sejak kedatangannya pada tahun 1593 atau penghujung abad ke-16 hingga akhir hayatnya. Dia bersama dua orang saudaranya yang juga ulama, yaitu Datuk ri Bandang yang bernama asli Abdul Makmur dengan gelar Khatib Tunggal dan Datuk ri Tiro yang bernama asli Nurdin Ariyani dengan gelar Khatib Bungsu menyebarkan agama Islam ke kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan.
Mereka menyebarkan agama Islam dengan cara membagi wilayah syiar mereka berdasarkan keahlian yang mereka miliki dan kondisi serta budaya masyarakat Sulawesi Selatan atau Bugis/ Makassar ketika itu. Datuk Patimang yang ahli tentang Tauhid melakukan syiar Islam di Kerajaan Luwu, sedangkan Datuk ri Bandang yang ahli fikih di kerajaan gowa dan tallo sementara Datuk ri Tiro yang ahli tasawuf di daerah tiro, Bulukumba.
Pada awalnya Datuk Patimang dan Datuk ri Bandang melaksanakan syiar Islam di wilayah Kerajaan Luwu, sehingga menjadikan kerajaan itu sebagai kerajaan pertama di Sulawesi Selatan, Tengah, Tenggara yang menganut agama Islam. Kerajaan Luwu merupakan kerajaan tertua di Sulawesi Selatan dengan wilayah yang meliputi Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur serta Kota Palopo, Tanah Toraja, dan Kolaka (Sulawesi Tenggara) hingga hingga Poso (sulawesi Tangah).
Seperti umumnya budaya dan tradisi masyarakat nusantara pada masa itu, masyarakat Luwu juga masih menganut kepercayaan animisme/dinamisme yang banyak diwarnai hal-hal mistik dan menyembah dewa-dewa. Namun dengan pendekatan dan metode yang sesuai, syiar Islam yang dilakukan Datuk Patimang dan Datuk ri Bandang dapat diterima Raja Luwu dan masyarakatnya. Bermula dari masuk Islam-nya seorang petinggi kerajaan yang bernama Tandi Pau, lalu berlanjut dengan masuk Islam-nya raja Luwu yang bernama Datu' La Pattiware Daeng Parabung pada 4-5 Februari 1605, beserta seluruh pejabat istananya setelah melalui dialog yang panjang antara sang ulama dan raja tentang segala aspek agama baru yang dibawa itu. Setelah itu agama Islam-pun dijadikan agama kerajaan dan hukum-hukum yang ada dalam Islam-pun dijadikan sumber hukum bagi kerajaan.
Setelah Raja Luwu dan keluarganya beserta seluruh pejabat istana masuk Islam, Datuk Patimang tetap tinggal di Kerajaan Luwu dan meneruskan syiar Islamnya ke rakyat Luwu, Suppa, Soppeng, Wajo. dan lain-lain yang masih banyak belum masuk Islam. Dikemudian hari sang penyebar Islam itu-pun akhirnya wafat dan dimakamkan di Desa Patimang, Luwu.
Sementara itu Datuk ri Bandang pergi dari kerajaan Luwu menuju wilayah lain di Sulawesi Selatan dan kemudian menetap di Makassar sambil melakukan syiar Islam diGowa, Takalar, Jeneponto, dan Bantaeng, lalu dikemudian hari sang ulama itu-pun akhirnya wafat di wilayah Tallo. Sedangkan Datuk ri Tiro yang ahli tasawuf melakukan syiar Islam di wilayah selatan, Tiro, Bulukumba, yaitu Bantaeng dan Tanete, yang masyarakatnya masih kuat memegang budaya sihir dan mantera-mantera. Khatib Bungsu atau Datuk ri Tiro yang kemudian berhasil mengajak raja Karaeng Tiro masuk Islam dikemudian hari juga wafat dan dimakamkan di Tiro atau sekarang Bontotiro.