Senin, 20 April 2015

Ini ciri-ciri Razia Lalu lintas oleh Polisi yang Sah dan Legal

Media Pembaharuan Semarang,- Empat anggota Polrestabes Semarang, yang terdiri dari tiga anggota Satuan Lalu Lintas (Satlantas) dan satu anggota Unit Sabhara ditangkap Kasi Propam Polres Temanggung di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Keempat polisi berpangkat brigadir itu menggelar operasi razia lalu lintas di wilayah hukum Polres Temanggung, Jawa Tengah.
Foto MEDIA Pembaharuan.Awal mula terungkapnya kasus razia ilegal yang dilakukan empat anggota Polsek Tembalang ini karena ada salah seorang anggota Polres Temanggung yang terkena tilang.
Kemudian, polisi tersebut melapor ke Kasi Propaminal Polres Temanggung dan keempat anggota Polsek Tembalang itu diciduk.
Nah, banyak pertanyaan yang muncul bagaimana membedakan razia yang ilegal dan legal. berikut penjelasannya
Sesuai peraturan pemerintah PP No 42 Tahun 1993, pasal 15 disebutkan razia sah harus dilengkapi papan tilang yang diletakkan minimal 100 meter sebelum lokasi. Kemudian pada pasal 13, harus ada surat tugas. Sebelum menunjukkan SIM dan STNK, suruh polisi menunjukkan surat tugasnya.
Foto MEDIA Pembaharuan.Jangan mau ditilang oleh polisi tidak bertanggung jawab.Jika mengetahui ada anggota Polri atau PNS Polri yang melakukan tindakan menyimpang, segera catat nama, pangkat dan kesatuan anggota tersebut dan melaporkan ke Div Propam Polri melalui No Telp (021-7218615) atau pengaduan Online di Website Div Propam Polri.

Minggu, 19 April 2015

KSAD sindir mahasiswa di Indonesia lebih parah dari pasien RSJ

Media Pembaharuan Jakarta,- Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, menyindir mahasiswa di Indonesia yang kerap melakukan aksi demontrasi lalu merusak dan membakar fasilitas kampus.
Foto MEDIA Pembaharuan. Dalam catatanya tiga tahun ini sudah ada 21 pembakaran fasilitas kampus yang dilakukan oleh mahasiswanya. Menurutnya perilaku tersebut sudah tidak lagi mencerminkan orang-orang terdidik.
"Mahasiswa tawuran atau berkelahi mungkin itu biasa, bisa karena rebutan pacar. Tapi kalau sampai bakar kampus? Apa ini namanya?" katanya saat menggelar dialog dengan aparat pemerintah daerah, DPRD, tokoh agama dan tokoh pemuda di hotel Rich Yogyakarta, Senin (20/4).
Dia pun membandingkan perilaku mahasiswa tersebut dengan pasien rumah sakit jiwa. Menurutnya belum pernah ada orang gila yang membakar rumah sakit jiwa.
"Pasien gila saja tidak pernah membakar rumah sakitnya sendiri. Ini mahasiswa gimana? Tapi bukan saya sebut mahasiswa gila lho," ujarnya.
Dari analisisnya, perilaku tersebut disebabkan karena Proxy War yang sudah berlangsung di Indonesia. Perilaku tersebut dipengaruhi dengan perubahan kebudayaan yang direkayasa oleh negara asing untuk merusak generasi muda di Indonesia.
"Salah satunya budaya kita disusupi dengan paham asing yang merusak," ungkapnya.
Selain lewat kebudayaan, cara merusak generasi muda di Indonesia dilakukan dengan narkoba. Menurutnya saat ini Indonesia menjadi sasaran serta pasar empuk bagi gembong-gembong narkoba.
"Persebaran narkoba sasarannya adalah anak muda. Itu salah satu cara untuk merusak Indonesia. Kalau sudah kena narkoba, mereka bisa berkelahi, membunuh orang, merusak tanpa rasa bersalah," tandasnya. (Abs).

Jangan Jadikan Cita-Cita Bung Karno Hanya Pertemuan Reuni Semata

39_2005,KTT Asia Afrika 2005_Golden Jubilee-6JAKARTA – Pemerintah Indonesia diingatkan tidak sekadar melihat peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika sebagai reuni semata. Namun harus memahami, pertemuan pertama kali digagas Soekarno untuk memerlihatkan Indonesia mampu berjuang dan merdeka dari penjajahan, karena ada persatuan dan kesatuan. 
Karena itu ia berharap kerja sama antara negara-negara di Asia dan Afrika dapat terjalin, demi kemajuan masing-masing.
“Bung Karno membuktikan kepada bangsa-bangsa di dunia tentang Indonesia. Mampu berjuang melawan penjajah, tapi kenapa kemudian menyerahkan Blok Mahakam ke Prancis dan Jepang atau Tembaga Pura ke Amerika,” ujar Direktur Eksektutif Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria, Minggu (19/4).
Karena itu demi cita-cita luhur tersebut, pemerintah menurut Sofyano, harus mampu memanfaatkan momentum peringatan KAA. Tidak saja demi hadirnya peningkatan kerja sama di bidang ekonomi, namun berbagai bidang lain. Sehingga seperti Soekarno, Indonesia mampu mengadapi tekanan apapun dari negara-negara besar seperti Amerika.
“Presiden Soekarno mampu membuktikan berani menantang kehendak dan tekanan negara besar Amerika. Kenapa kemudian pemimpin setelahnya sering ‘patuh’ terhadap tekanan pemimpin negara-negara lain,” ujarnya.
Sofyano meyakini, jika Indonesia kuat dari segi ekonomi dan memiliki ketegasan sikap, penjualan aset-aset negara tak akan terulang kembali. Misalnya penjualan Indosat dan Perusahaan Gas Negara (PGN).
“Bangsa ini mampu berdikari dan tidak menjual atau menggadaikan isi perut bumi tanah airnya kepada. Kita harus kembali membuktikan hal tersebut. Banyak contoh lain yang harusnya direnungkan oleh pemimpin-pemimpin di negeri ini, karena mereka ikut dalam pesta KAA saat ini. Sementara rakyat hanya jadi penonton saja,” ujarnya. (Abs)

Jumat, 17 April 2015

Matinya Kapitan Marunda

Media Pembaharuan Jakarta,- Di masa kejayaan VOC, banyak  pemberontak pribumi yang berbelok menjadi abdi kompeni. Salah satunya putra Maluku bernama Jongker, penguasa Marunda.
GEDUNG munggil bertembok kusam itu terpuruk di sudut Pelabuhan Alfa Pejongkeran, Marunda. Catnya yang bercorak  merah putih sebagian mulai terkelupas dimakan waktu. Tepat di bagian atas pintu besinya bertengger sebuah lafaz Arab berbunyi:bismillahirohmanirrohim. Sekilas orang akan menduga gedung itu tak lebih gudang tua semata. Terlebih dengan rimbunan pohon kersen dan semak belukar di sekelilingnya, kesan itu seolah semakin kuat.
Matinya Kapitan MarundaSaya mengarahkan lensa kamera ke bagian dalam gedung tua yang tergembok itu, lantas mengatur ketepatan jaraknya.Klik…Klik..Klik. Lewat  lubang kunci yang berdiameter sekitar 4X3 cm, jadilah saya mengambil gambar pemandangan yang ada di dalam ruangan gedung tersebut: sebuah makam tua bermarmer putih kusam dengan tiga tangkai sedap malam layu di atas nisannya. Lalu makam siapakah itu gerangan?
“Kata orang-orang tua dulu sih, itu makam Panggeran Jafar alias Kapiten Jongker,”ujar Inan (43), seorang tukang ojek yang sehari-hari mangkal di sana.
Keterangan Inan memang tidak salah. Di bawah makam tua itu, memang dikebumikan seorang lelaki bernama Kapitan Jongker (atau Jonker). Itu nama seorang putra Maluku yang menjadi jagoan kompeni  dan penguasa Marunda sekitar 400 tahun yang lalu. Bahkan begitu berkuasanya Jongker hingga, ”Namanya diambil untuk menyebutkawasan ini yakni Pejongkeran,”katawarga asli Marunda tersebut.
Dalam catatan sejarah versi Belanda, nama Jongker  memang ada disebutkan. Menurut salah satu ahli sejarah Hindia Belanda terkemuka yakni F.De Haan, nama itu memang tertulis dalam sebuah akte VOC bertahun 1664  sebagai Joncker Jouwa de Manipa. “Nama Manipa bisa jadi mengacu kepada tempat dia berasal yakni Pulau Manipa di Seram Barat,Maluku,” tulis De Haan dalam   Oud Batavia 
Awalnya Musuh VOC
Sekilas nama Jongker sangat berbau Belanda dan identik dengan nama Kristen. Namun banyak sejarawan percaya bahwa sesungguhnya Jongker adalah seorang Muslim. Salah seorang sejarawan Belanda yang mengimani soal itu adalah  J.A. Vander Chijs. “Dari lahir sampai meninggal, Jongker adalah seorang pengikut Muhammad,”tulisnya dalam Kapitein Jonker.
Jonker memang putra Maluku tulen. Dia lahir di Pulau Manipa pada 1620 dalam nama Achmad Sangadji Kawasa. Nama terakhir mengacu kepada nama sang ayah yakni Kawasa,seorang Sangadji (jabatan setingkat Bupati) yang diangkat langsung oleh Sultan Ternate bernama Hamzah. Saat pengangkatan tersebut usia Jonker baru 18 tahun.
Sangadji muda begitu terkesan dengan kewibawaan sang ayah. Ia memiliki cita-cita untuk  bisa sekuat dan sewibawa ayahnya. Karena itu, ketika sang ayah menyatakan Mapia ikut berperang melawan VOC dalam Perang Hoamoal(1651-1656), dengan semangat mengebu, Achmad Sangadji melibatkan diri. Salahsatunya dengan melakukan pelayaran ke Makassar guna mencari bantuan amunisi dan dukungan politik.
Sayang, kekuatan Manipa tidak seimbang dengan VOC. Alih-alih bisa menghancurkan orang-orang Belanda, benteng Manipa malah hancur dan para pemimpinnya ditawan oleh VOC.Termasuk Achmad Sangadji dan seluruh keluarganya. Sejak itulah, ia yang sebelumnya dikenal musuh VOC berbalik mendukung  perusahaan dagang multinasional pertama di dunia itu. Bahkan bukan hanya secara politik, Achmad Sangadji juga melibatkan diri dalam kemiliteran VOC.
Belum ada keterangan sejarah yang menyebutkan musabab Achmad Sangadji menjadi pengikut VOC. Apakah itu merupakan sebuah bentuk kompromi politik? Sepertinya para ahli sejarah harus lebih dalam meneliti soal ini. Namun yang jelas, H.J De Graaf menyatakan sejak bergabung dengan militer VOC, Sangadji ditempatkan oleh Arnold de Vlamingh van Oudtshoorn (Gubernur VOC untuk Maluku) menjadi anggota kompi Kapitain Tahialele, putra dari Raja Luhu yang juga ikut menyerah kepada VOC.
“Kompi orang-orang Ambon ini ditempatkandi Batavia,”tulis De Graaf dalam De geschiedenis van Ambon en de Zuid-Molukken.
 Selanjutnya serdadu-serdadu  asal Maluku banyak dilibatkan dalam berbagai operasi militer VOC di berbagai tempat, mulai dari Kupang hingga ke kawasan India Selatan. Pada 9 Agustus 1657, Kompi Tahialele  yang berkekuatan 80 prajurit ikut bergabung dengan pasukan besar VOC pimpinan Rijklof van Goens. Mereka  bergerak menuju India dan Srilanka guna berperang menghadapi serdadu-serdadu Portugis.
Setahun mereka bertempur melawan orang-orang Portugis hingga pada 24 Juni 1658, VOC berhasil merebut Jafnapatnam, Diu dan Goa. Namun kemenangan itu harus dibayar mahal dengan gugurnya beberapa prajurit terbaik VOC termasuk Kapitain Tahialele. Untuk menggantikan posisi Tahialele, maka pada 1659 VOC mengangkat Achmad Sangadji sebagai komandan kompi dengan pangkat Kapiten.

Terlibat Berbagai Operasi Militer
Sejak memimpin Kompi Ambon, karier militer Achmad Sangadji melesat bak anak panah. Bersama pasukan Maluku-nya, Achmad Sangadji menjadi andalan VOC dalam menaklukan beberapa daerah di Nusantara. Salah satu daerah yang menjadi “pengatrol” karier militer Achmad Sangadji adalah Sumatera Barat, tanah air orang-orang Minangkabau.
Tersebutlah VOC yang pada April 1666 dipermalukan oleh orang-orang Minangkabau. Saat berupaya memadamkan pemberontakan rakyat Pauh, alih-alih mendapat kemenangan, 200 serdadu kompeni lintang pukang. Dari 200 serdadu yang dikirim, hanya 70 serdadu yang kembali hidup-hidup. Pimpinan pasukan VOC yang bernama Jacob Gruys termasuk korban yang tewas selain 2 Kapiten dan 5 Letnan.
VOC bertekad membalas kekalahan memalukan itu. Pada Agustus1666,  Gubernur Jenderal Joan Maetsuyckerdi Batavia memerintahkan Angkatan Perang VOC untuk  mengirim lagi 300 serdadunya ke Pauh: terdiri dari  130 serdadu Bugis pimpinan Aru Palaka (RajaBone) dan 100 serdadu Ambon dibawah Kapiten Sangadji. Sisanya terdiri dari serdadu Belanda totok yang langsung dipimpin oleh komandan gabungan bernama Abraham Verspreet.
Para serdadu Belanda totok tersebut mendapat prioritas pengamanan.Itu dibuktikan dengan adanya perintah langsung Gubernur Jenderal kepada Verspreet untuk mengatur setiap pertempuran dalam formasi: Pasukan Bugis dan Pasukan Ambon harus selalu berada di depan Pasukan Belanda. Itu jelas bertujuan menjadikan para serdadu bumiputera sebagai perisai hidup bagi para serdadu Belanda totok.
Peperangan yang kedua antara serdadu VOC dengan rakyat Minangkabau itu pun berlangsung cukup seru. Rusli Amran melukiskan saat berlangsung pertempuran , korban berjatuhan dari kedua belah pihak. VOC sendiri kehilangan 10 orang serdadu  dan  20 lainnya luka-luka termasuk Kapiten Aru Palaka dan Kapten Achmad Sangadji, yang terkena 3 buah tusukan tombak.
“ Dalam setiap pertempuran, para serdadu bumiputera  ini sering kali terpisah dengan pasukan induk. Itu disebabkan mereka begitu sibuk sendiri melakukan pembantaian dan pemenggalan kepala…” tulis Rusli Amran dalam Sumatera Barat hingga Plakat Panjang.
Akhir pertempuran, Ulakan dapat diduduki pada 28 September1666. Dengan kemenangan itu, VOC mengganjar Aru Palaka menjadi Raja Ulakan versi kompeni. Dua hari kemudian serdadu VOC berhasil menguasai Pariaman. Sebagai penghargaan atas jasa-jasa Pasukan Ambon, Verspreet mengangkat Achmad Sangadji sebagai Panglima Kompeni Wilayah Pariaman ( orang lokal menyebutnya sebagai Raja Ambon) dan  berhak mendapat upeti dari masyarakat setempat.
Awal  November, pasukan gabungan VOC itu  pulang ke Batavia. Gubernur Jenderal  Joan Maetsuycker  memberikan banyak hadiah kepada mereka. Aru Palaka dan  Achmad Sangadji sendiri mendapat pakaian dan emas serta masing-masing mendapat 20 ringgit untuk setiap tawanan yang dibawa dari Minangkabau.

Kesayangan Gubernur Jenderal Speelman
Kesuksesan Kapiten Sangadji di Sumatera Barat, membuat namanya populer di kalangan militer dan pejabat teras VOC. Sebagai bentuk penghormatan,pada 1 Januari 1665, VOC mengangkat Sangadji sebagai kepala orang-orang Ambon di Batavia. Sejak itulah pamor Si Kapiten Maluku mulai mencorong.I tu menyebabkan ia kebanjiran “order”  dari GubernurJenderal VOC untuk menumpas bebeberapa pergolakan rakyat di belahan Nusantara seperti di Jambi, Palembang, Jawa Timur dan Banten.
Dari situlah, karier militernya berjalan makin bagus. Salah satu prestasi militer yang menjadikan bintang Sangadji makin kinclong di hadapan VOC adalah saat ia berhasil memadamkan sekaligus menangkap Trunojoyo, seorang Madura yang melakukan pemberontakan besar terhadap kekuasaan Sultan Amangkurat II yang didukung oleh VOC.
Atas berbagai “prestasi” itu, adalah wajar jika kemudian Sangadji tampil sebagai serdadu kesayangan Gubernur Jenderal Cornelis Janszoon Speelman. Begitu sayangnya Speelman kepada putra Malukut ersebut, hingga ia menganugerahkan medali berbentuk rantai kalung emas(seharga 300 ringgit) dan menganugerahkan sebidang tanah di kawasan Pantai Marunda.Posisi inilah yang konon menjadikannya dipanggil sebagai Jonker yangartinya raja muda.
Namun tentu saja tidak berarti kejayaan Kapiten Jonker berjalan mulus. Demi menyaksikan kesuksesan Jonker, diam-diam ada perasaan dengki di kalangan serdadu Belanda totok. Menurut mereka, sehebat apapun Jonker, ia tetap seorang inlander (bumiputera) yang tak berhak memiliki jabatan tinggi. Sebuah sikap sok superior khas orang-orang kulit putih
Menurut sejarawan Van der Chijs, memang ada satu kelompok serdadu VOC yang  tak senang dengan situasi tersebut. Mereka memendam perasaan iri  dan dengki yang berkarat kepada Jonker. Klik tentara VOC itu dipimpin oleh seorang perwira sekaligus anggota Dewan Hindia. Namanya Isaac de Saint Martin.
Isaac adalah tipikal tentara politis yang memiliki kepandaian berstrategi. Ketika Jonker ada di puncak kesuksesannya, ia tidak memperlihatkan sikap dengkinya itu. Namun pasca meninggal Speelman pada 1884, mulailah ia dan kelompok intelejennya menyebar gossip: Jonker sedang mempersiapkan sebuah pemberontakan terhadap kekuasaan VOC di Batavia. Ia disebutkan  ingin membunuh semua orang-orang Belanda di Batavia karena mereka beragama Kristen. “ Itu jelas sebuah tuduhan yang sangat serius  di Batavia saat itu, karena akan berakibat hukuman mati,”tulis Van der Chijs.

Akhir Tragis Penguasa Marunda
Jonker bukan tidak mengetahui soal gosip miring tentang dirinya. Dari tempat tinggalnya di Marunda, ia dan kelompoknya berusaha sekuat tenaga menyangkal semua yang dituduhkan kepada mereka. Dan memang secara logis, adalah konyol jika Jonker ingin melakukan pemberontakan, mengingat begitu kuatnya kedudukan Pemerintah Pusat di Batavia saat itu.
Namun pengaruh Issac de Saint Martin terlalu kuat di Batavia. Selain munculnya sentiment rasis di kalangan orang-orang Belanda, bisa jadi itu juga disebabkan oleh kekurangtahuan akan situasi politik dari Gubernur Jenderal Johannes Camphuys yang baru saja menggantikan Gubernur Jenderal Speelman yang mati mendadak. Akibatnya  mau tidak mau, Jonkerpun harus menjadi korban intrik politik para perwira Belanda.
Tahun 1688, Pemerintah Pusat di Batavia mulai mengawasi dan menyempitkan gerakan Jonker. Beberapa fasilitas yang didapatnya dari Speelman mulai dilucuti. Di lain pihak provokasi terus dilakukan oleh Issac de Saint Martin dan kliknya di tubuh Angkatan Perang VOC. Setahun kemudian, mungkin karena tidak kuat lagi dengan berbagai tekanan, intrik dan pengawasan , Jonker dan kelompoknya terprovokasi untuk menyerang Batavia.
Penyerangan itu memang gagal, karena saya pikir Jonker melakukannya setengah hati. Tidak disebutkan jumlah korban yang jatuh dalam penyerangan itu. Namun yang jelas, saat itu Pemerintah Pusat Batavia sendiri seolah-olah“memaafkan” ulah Jonker tersebut. Rupanya itu hanya “tipu-tipu gaya Holland” semata. Setelah berhasil mendinginkan Jonker dan pasukannya, beberapa harikemudian Angkatan Perang VOC justru mengirimkan ratusan pasukannya lewat darat dan laut. Marunda dikepung dari tiga penjuru.
Malangnya, Kapiten Jonker tidak menyadari kelicikan orang-orang Belanda itu. Alih-alih bersiap siaga, konon sambil tertawa-tawa ia malahmenyambut kedatangan Kapiten Wan Abdul Bagus dan kawan-kawannya tersebut. Kapiten Wan Abdul Bagus atau Cik Awan adalah komandan Pasukan Melayu VOC, yang bermarkas di suatu tempat yang sekarang bernama Cawang, Jakarta Timur. Menurut Alwi Shahab dalam Robin Hood dari Betawi, nama Cawang sendiri diambil dari  namanya yang sering dipanggil dengan istilah Melayu: Cik Wan.
Saat bersendagurau itulah, tiba-tiba sebutir peluru dari penembak runduk (sniper) VOC menghantam tubuh Jonker. Si Kapiten Maluku itu pun tewas seketika. Seiring dengan terbunuhnya Jonker, ratusan pasukan VOC secara kilat menyerbu posisi Pasukan Ambon yang sama sekali tidak sedang siap siaga. Akibatnya 130 prajurit Ambon terbantai dan mayatnya bergelimpangan di tepi Pantai Marunda.
Mayat Kapiten Jonker sendiri dievakuasi ke Batavia. Kepala jagoan Pasukan Maluku itu dipenggal dan sempat dipamerkan di kawasan Kota (Nieupoort). Setelah puas, barulah jasadnya dibawa kembali ke Marunda dan dimakamkan tepat di sebuah tepi Pantai Marunda, bekas tempat tinggalnya.
Gedung munggil bertembok kusam itu terpuruk di sudut Pelabuhan Alfa Pejongkeran, Marunda. Catnya yang bercorak merah putih sebagian mulai terkelupas dimakan waktu. Inilah saksi bisu dari pengkhianatan VOC kepada abdinya yang paling setia dan berjasa.(hendijo)

Kamis, 16 April 2015

Rapat Security Commitee bahas Keamanan Bandara SHIAM

Media Pembaharuan Maros,– Pagi sekitar pukul 09.00 WITA (15/4/2015) Kapolres Maros menghadiri Rapat Komite Keamanan Bandar Udara Airport Security Commitee Meeting di ruangan SSK Kantor Cabang Angkasa Pura 2, acara yang dihadiri langsung oleh GM Angkasa Pura 1 Bapak Yanus Prayogi, Wakil dari Ka Otban Kabid KUK Bapak Harjoko membahas tentang beberapa hal penting terkait dgn keamanan Bandara Sultan Hasanuddin Maros.
Dalam rapat ini hadir Pula Dandim 1422 Letkol Inf. Sunarto, S.Pd, Wakil dari Dan Lanud HND Mayor Pom Maskur, Manager MATSC, serta para anggota yang tergabung dalam Komite Keamanan Bandar Udara Airport Security.
IMG_20150416_170856Pembahasan yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini memaparkan beberapa permasalahan yang dihadapi antara lain Penerapan PAS yang akan berlaku online, permasalahan Taxi Gelap dan Pengamanan Akses Masuk Bandara (Airside), dari Kapolres Maros sendiri AKBP C.F. Hotman Sirait, SIK, SH membahas tentang kecelakaan kerja yang baru saja terjadi di Hanggar baru yang menelan korban, Meminta pemisahan akses area khusus VVIP di bandara sehingga terdapat pemisahan antara penumpang umum dan VVIP serta pemberian reward terhadap personil AVSEC (Security Bandara) yang menemukan narkoba dalam bawaan penumpang.
“Rapat ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam peningkatan pelayanan yang baik terhadap penumpang serta juga untuk meningkatkan sistem keamanan Bandara Int. Sultan Hasanuddin Maros yang dimana bandara ini merupakan bandara yang sudah dikategorikan bandara penerbangan Internasional” Tutur Kapolres Maros saat ditemui di Ruangannya di Mapolres Maros (pmw-1)Sumber : Humas Polres Maros

Rabu, 15 April 2015

Akhirnya Titiek Soeharto Memberi Bocoran Kenapa Tommy Sampai Marah Pada Yorrys

Media Pembaharuan Jakarta,- Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Siti Hediati Haryadi atau yang lebih dikenal Titiek Soeharto menganggap wajar bila adiknya, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto marah besar kepada pihak-pihak yang mengacak-acak partai yang didirikan mendiang ayahnya itu. Titiek menyampaikan hal itu terkait cecuit Tommy melalui akunnya di Twitter yang mengecam tindakan Ketua AMPG, Yorrys Raweyai saat menggeruduk ruang Fraksi Partai Golkar DPR beberapa waktu lalu.
“Ya tentu saja (Tommy) marah ya. Ini kan partai kita semua, partai besar tapi kok diacak-acak,” kata Titiek saat ditemui di gedung DPR, Jakarta, Selasa (14/4).
Foto Andi Baso Pawiloi. Titiek mengungkapkan, keluarga besarnya di Jalan Cendana, Jakarta Pusat telah bertemu dengan Aburizal Bakrie alias Ical selaku ketua umum Partai Golkar hasil musyawarah nasional (munas) di Bali. Pertemuan itu digelar untuk membahas konflik internal di Golkar.
“Kami sekeluarga yang undang Pak Ical atas nama partai, untuk mengetahui apa yang terjadi di Golkar. Apa yang bisa kita sinergikan untuk menyelesaikan itu semua. Alhamdulillah beliau-beliau mau datang ke tempat kita makan siang,” jelas Titiek tanpa merinci isi pertemuan itu.
Apakah dalam pertemuan itu Tommy juga menyampaikan keinginan untuk aktif kembali di Golkar? Titiek mengatakan, adiknya adalah pengurus DPP Golkar hasil munas Bali.
“Sebetulnya Tommy di kepengurusan Bali dia masuk wantim (dewan pertimbangan),” jawab Titiek, sembari berharap dengan keterlibatan Tommy, konflik partainya bisa segera diakhiri.

Panglima TNI : Jajaran Penerangan TNI Harus Bangun Komunitas dengan Media

Media Pembaharuan Jakarta,- Guna kepentingan diseminasi informasi bagi penguatan TNI, Counter Opini dan proteksi, Pusat Penerangan di jajaran TNI harus bisa membangun komunitas dengan media sekaligus menjadi wahana penguatan kapasitas sumber daya manusia penerangan TNI. Demikian dikatakan Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko di depan peserta Rapat Koordinasi Teknis Penerangan (Rakornispen) TNI tahun 2015, bertempat di Aula Gatot Subroto Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur, Selasa (14/4/2015).
“Peran media di era globalisasi saat ini adalah suatu keniscayaan, sehingga apa yang ada di media akan mempengaruhi realitas subyektif interaksi antar organisasi atau interaksi sosial pelaku organisasi di masyarakat”, tambah Panglima TNI.
media tniLebih lanjut Jenderal TNI Moeldoko mengatakan, berangkat dari besarnya peran media dalam mempengaruhi peran publik, Pusat Penerangan TNI dan Penerangan Angkatan sangat perlu memikirkan strategi dan sistem diseminasi informasi dan proteksi organisasi secara akurat dan berkualitas terlebih dihadapkan kepada globalisasi media yang tak terelakkan lagi.
“Pendekatan profesional harus menjadi kata kunci dalam pengembangan kapasitas, kapabilitas dan kreatifitas personel penerangan termasuk kapasitas dan naluri intelejen yang harus dimiliki personel penerangan TNI, guna dapat membaca setiap kecenderungan yang berkembang. Untuk itulah saya sekarang ini memobilisasi penerangan TNI agar dapat digerakkan”, ujar Panglima TNI.
“Dengan kapasitas dan naluri intelijen, lembaga penerangan di jajaran TNI harus dapat memanfaatkan munculnya lembaga-lembaga Media Wacth, yang keras terhadap pers negatif sebagai jawaban terhadap maraknya penerbitan pers kuning, Massen Presse dan Geschaff Presse”, tegas Panglima TNI.
Dalam kesempatan tersebut Panglima TNI  berharap, agar mulai saat ini masing-masing jajaran penerangan untuk melakukan perubahan di unit kerjanya, dan tunjukan kalian bisa berprestasi di tengah-tengah kekurangan yang kalian hadapi. Jadikan tantangan sebagai suatu kebutuhan kebutuhan. “Perwira penerangan jangan ragu-ragu untuk memuat berita TNI sebanyak-banyaknya di media. Tidak usah takut nanti dimarahi, dan kalau ada kekurangan-kekurangan itu nanti urusan saya yang menyelesaikan”, tegasnya.
Rakornispen TNI tahun 2015 yang berlangsung selama satu hari mengambil tema “Mewujudkan Interoperabilitas Jajaran Penerangan TNI Guna Mendukung Tugas Pokok”, diikuti 132 personel, terdiri dari 13 personel Mabes TNI, 50 personel TNI AD, 38 personel TNI AL, 16 personel TNI AU, 5 personel Peninjau dan 13 personel undangan, menghadirkan tiga narasumber yaitu Budiarto Shambazy (Wartawan Senior Kompas), Effendi Gazali (Pakar Komunikasi) dan Balques Manisang (News Anchor tvOne).
Turut hadir dalam acara tersebut, para Asisten Panglima TNI, Kapuspen TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya, Kadispenad Brigjen TNI Wuryanto, Kadispenal Laksma TNI Manahan Simorangkir dan Kadispenau Marsma TNI Hadi Tjahjanto.
Short URL: http://jurnalpatrolinews.com/?p=73628