Media Pembaharuan Makassar, – Dalam
buku Jusuf Wanandi, “Menyibak Tabir Orde Baru Memoar Politik Indonesia
1965-1998″ (Kompas, 2014), banyak fakta yang terungkap tentang hubungan
CSIS dengan 20 tahun pemerintahan Soeharto. Meski buku ini banyak memuji
Benny Moerdani, tapi peristiwa-peristiwa monumental yang diungkap Jusuf
menarik disimak.
“Benny menceritakan semuanya. Ia bercerita selama satu setengah jam
–semua hal yang Benny simpan sejak pertemuan terbuka terakhir mereka,
lebih dari 10 tahun yang lalu. “Bapak sekarang tahu, karena Bapak tidak
percaya pada kami,” jawab Benny maksudnya ABRI. “Kami adalah dasar dari
kekuasaan Bapak, tetapi kemudian Bapak tidak lagi percaya pada kami, dan
malah lebih percaya kepada Habibie dan ICMI. Dan semua pembantu yang
Bapak percayai –Harmoko, Ginanjar Kartasasmita, Akbar Tanjung- ternyata
pengkhianat. Ini salah besar. Lihat apa yang terjadi. Militer pun
sekarang sudah semakin ‘hijau’ (dalam arti perwira non Muslim atau yang
kurang ‘saleh’ tidak lagi mendapat kesempatan) di bawah Feisal Tanjung.
Karena Bapak tidak percaya kepada saya, Bapak juga tidak percaya kepada
ABRI, walaupun kami selalu mendukung Bapak. Dan setia,”tulis Jusuf.
Jusuf melanjutkan kisahnya: “Soeharto terdiam. Namun ketika Benny
menyebut nama jenderal “dicurigai”, ia mengambil pena dan kertas dan
membuat catatan. Benny mengatakan bahwa “lima dari sepuluh pangdam
adalah hijau. Bapak tidak bisa mengandalkan mereka.” Mereka berdua
berdamai. Soeharto menyempatkan melayat ke rumah Benny dan membaca doa
di depan jenazahnya ketika Benny mendahuluinya. Daftar itu, Benny
menceritakan kepada kami kemudian, diberikan kepada Wiranto yang ketika
itu menjabat sebagai Panglima ABRI dan Menteri Pertahanan di bawah
kepemimpinan Habibie. Ketika daftar itu sampai ke tangan Wiranto, ia
tidak perlu didorong lagi. Dalam waktu satu bulan, kelima nama yang
terdapat dalam daftar milik Benny akhirnya diganti.” (halaman 388).
Jusuf Wanandi, kakak kandung Sofjan Wanandi, adalah pendiri koran The
Jakarta Post. Ia mengakui kedekatan hubungannya dengan Daoed Joesoef,
Benny Moerdani, Jacob Oetama dan Fikri Jufri. Tentang Daoed Joesoef,
diceritakan : “Daoed Joesoef, Ketua Dewan Direktur selama lebih dari 30
tahun, adalah pemikir strategis utama kami. Setelah menjabat sebagai
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di bawah Soeharto, ia kembali dengan
lebih yakin mengenai pentingnya peran yang dimainkan CSIS sebagai think
tank bagi bangsa dan masyarakat. Ia masih terus menulis dan berceramah
mengenai masalah-masalah strategis.”
Jusuf mengakui bahwa di awal pemerintahannya Soeharto tidak dekat
dengan Islam. “Selama 20 tahun pertama pada masa kekuasaannya, Soeharto
sangat hati-hati untuk tidak membiarkan Islam menjadi kekuatan politik.
Di akhir tahun 1980-an, Presiden Soeharto membuang pendirian ini dalam
rangka menggalang dukungan untuk menyingkirkan ABRI sebagai penopang
utama kekuasaannya. Perubahan inilah yang kelak membawa kejatuhan
Soeharto.”
Kelompok CSIS yang diakui Jusuf Wanandi sebagai kelompok Cina dan
Katolik, memang sejak 1988 sangat kecewa kepada Soeharto yang
meninggalkan CSIS. Tokoh pendiri CSIS ini menyatakan : “Pada Maret 1988,
tidak lama setelah kabinet baru terbentuk, Presiden Soeharto memutuskan
segala hubungan dengan CSIS yang sudah terjalin begitu lama. Memo yang
saya tulis yang mengusulkan agar ia mendelegasikan wewenang eksekutif
menjadi korban dari perebutan kekuasaan yang lebih luas. Presiden
Soeharto memang sudah tidak peduli kepada kami, tetapi kejatuhan Benny
Moerdani setelah Sidang MPR 1988 telah menentukan nasib kami.” (halaman
340).
Lebih lanjut Jusuf menyatakan : “Dari sebuah lembaga yang dianggap
“dekat” dengan Soeharto dan think tank yang memberi legitimasi pada
kekuasaannya, yang dikelola oleh “keturunan Tionghoa dan Katolik”, kini
menjadi lembaga yang menentang Soeharto. Setelah 20 tahun, saya sadar
bahwa saya tidak lagi dalam posisi menasihati Soeharto mengenai apa yang
terbaik bagi kepentingan negara. Awalnya kami terkejut ketika mendengar
bahwa para menteri diperintahkan untuk tidak lagi berhubungan dengan
kami. Beberapa jenderal yang dekat dengan kami juga mulai menjaga jarak.
Mereka juga dilarang memberikan proyek bisnis kepad adik saya Sofjan.
Jenderal Tjokropanolo juga pernah diperingatkan oleh Soeharto mengenai
hal ini ketika ia menjabat sebagai Panglima Kostrad. Kami juga dilarang
untuk diundang pada pembukaan KTT APEC pada tahun 1994 dan KTT Non Blok
pada tahun 1992.”
Benny Moerdani yang dianggap tokoh-tokoh Islam sebagai musuh utama
tahun 1980-1990an, selain CSIS, kecewa besar terhadap presiden Soeharto
yang mencopotnya sebagai Panglima ABRI dan Panglima Kopkamtib. Pak Harto
memindahkan posisi Benny menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan yang
‘sedikit kekuasaannya’ pada Maret 1988. Presiden mengangkat Feisal
Tanjung sebagai Panglima ABRI.
Jusuf Wanandi memberi catatan tentang Benny yang ingin terus memegang
kekuasaan di negeri ini: “Selain itu, ada beberapa kendala yang harus
diatasi Benny. Salah satunya adalah agama yang dianutnya: memang
pencalonan itu bisa terjadi, tetapi sebagai umat Katolik, tidak mungkin
ia menjadi presiden. Benny tak akan mengubah kepercayaannya. Benny
sangat jelas pendiriannya mengenai keimanannya. Saya ingat, dalam suatu
acara makan malam bersama Benny, hadir Harry Tjan, saya, dan sejumlah
redaktur senior yang berkawan dekat dengan Benny, seperti Jacob Oetama
dari Kompas dan Fikri Jufri dari Tempo. Fikri mungkin sudah terpengaruh
oleh anggur merah sambil menangis berkata kepada Benny,”Mengapa Pak
Benny tidak menjadi Muslim? Kami akan memilih Bapak menjadi presiden
republik ini.” Yang lain terdiam mendengar ucapan Fikri. Kami sudah
mengenal Benny dengan baik, tetapi dia temperamental dan tidak dapat
ditebak. Benny memandang Fikri dan berkata,”Memangnya saya semurah itu
melepas kepercayaan saya hanya untuk mengejar jabatan? Tidak akan
pernah.””
CSIS sebagai Think Tank Soeharto sejak akhir tahun 1960 sampai 1988,
sebagaimana sering diungkap para tokoh Islam, bukanlah ungkapan yang
mengada-ada. Jusuf Wanandi dalam bukunya ini mengakuinya. Ia mengatakan
terus terang : “Meski demikian, sampai akhir tahun 1980-an kami di CSIS
cukup nyaman dalam hubungan kami dengan Soeharto. Kami adalah sebuah
think tank yang memberikan masukan kepada presiden. Kami bukan bagian
dari pemerintah, tetapi kami mempunyai hubungan khusus yang memberikan
kami akses dan perlindungan. Ketika Benny Moerdani menjadi Panglima
ABRI, ia menjadi orang terkuat nomor dua di negeri ini. Ia menjadi
pelindung kami setelah Ali Moertopo meninggal. Peran saya dan
kawan-kawan senior di CSIS antara lain adalah menulis memo kepada
Presiden Soeharto, pekerjaan yang saya dan kolega saya telah lakukan
sejak tahun 1971.” (halaman 313).
Ketika Benny digeser menjadi Menhankam, di saat yang bersamaan
Soeharto menyatakan kepada kabinetnya: “Saya tidak mau ada hubungan
apapun lagi dengan CSIS dan saya perintahkan kalian juga demikian.”
Menanggapi pemutusan hubungan Soeharto dengan CSIS (dan beralih ke
Habibie dan ICMI) ini Jusuf Wanandi menyatakan : “Bagi saya ini
menandakan awal dari berakhirnya Orde Baru. Bukan karena ia mencampakkan
kami, melainkan karena Presiden Soeharto tampaknya sudah kehilangan
arah.” (lihat halaman 295-296).
CSIS yang merupakan lembaga pemikir yang pro Barat, mengakui bahwa
mereka punya kerjasama dengan Rand Corporation, lembaga yang dikenal
anti Islam Militan. “Rand Corporation sangat membantu CSIS,”terang
Jusuf. Meski ia tidak mungkin meniru sepenuhnya Rand, Jusuf menyatakan :
“Namun, kekuatan intelektual, proses penelitian dan pengawasan,
pendekatan dan kerjasama kolektif dan studi interdisiplin yang
diterapkan Rand Corporation sangat mengesankan dan saya ingin
menerapkannya di CSIS.”
Jusuf dan kawan-kawannya di CSIS, memainkan partai Golkar untuk
menguasai politik di Indonesia. “Satu-satuya cara kami mendukung Golkar,
kami tegaskan, adalah kalau kami yang mengelola panitia pemilu Golkar
sehingga kami dapat memilih calon yang ditampilkan dalam pemiliha dan
tidak mengandalkan kader yang ada yang umumnya lemah. Soeharto setuju.
Ali Moertopo memberikan kepada saya untuk melaksanakannya. Ia member
saya sebuah gedung di sebelah gedung lain yang kelak menjadi kantor CSIS
untuk mengelola Badan Pengendalian Pemilu (Bappilu) Golkar. Saya
menyeleksi 50 orang dari kelompok aktivis sebagai penghubung Golkar di
daerah. Pada Maret 1971, Pak Ali memberi kami modal untuk menerbitkan
harian Suara Karya untuk menyebarluaskan pesan-pesan Golkar. Penerbitan
perdana terjadi tiga hari kemudian, persis pada hari Supersemar. Tidak
tahu bagaimana caranya, dengan Sumiskum sebagai penerbit dan Rahman
Tolleng, sebelumnya redaktur Mingguan Mahasiswa di Bandung, sebagai
Pemimpin Redaksi, kami berhasil meluncurkannya.”
Kedekatan Ali Moertopo dengan kelompok Katolik CSIS, karena sejak
awal ia tidak suka kepada Islam atau syariat Islam. Pada Sidang MPRS
1968, Ali Moertopo menyarankan kepada Soeharto agar menolak GBHN yang
dirumuskan MPRS yang dipimpin oleh Jenderal Nasution dan Subchan. Ali
dkk berhasil melobi Soeharto yang ‘baru mengenal politik’ saat itu.
“Pak,”demikian kata Ali Moertopo,”Bapak tidak bisa menerima usulan Badan
Pekerja karena semuanya dibuat oleh Nasution dan oknum ABRI berhaluan
kanan. Bapak tidak bisa menerima ini karena dalam konsep-konsep tersebut
diselipkan perumusan penerapan syariah Islam.” Ali mengutip contoh
pasal mengenai hak asasi manusia yang melarang orang beralih agama.
Jika ini dimasukkan ke dalam GBHN, berarti UUD kita berlawanan dengan
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang salah satu pasalnya menjamin
kebebasan untuk beralih agama.” (lihat halaman 113).* (ABS)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar