Selasa, 02 Desember 2014

Gadis Perawan yang Digilir Oleh 11 LELAKI............. Polisi akan Lakukan Tes DNA setelah Bayi Lahir, 6 Pelaku Masih Buron

Media Pembaharuan Pare-Pare,- Sungguh tragis nasib perawan AS (16), siswi sebuah SMK di Parepare, yang menjadi korban perkosaan 11 remaja, Agustus silam. Hasil visum terakhir yang dikeluarkan Polres Parepare, akibat perkosaan itu, korban positif hamil tiga bulan.
"Iya positif. Korban hamil tiga bulan sekarang. Kehamilannya kita duga kuat akibat perkosaan itu," terang Kepala Satuan Reskrim Polres Parepare AKP Nugraha Pamungkas, kepada Wartawan di Kejaksaan Negeri Parepare, Senin (1/12).
Nugraha menjelaskan, setelah positif hamil, penyidik tinggal menanti kelahiran sang jabang bayi untuk memastikan siapa dari 11 pelaku yang menjadi ayah dari bayi tersebut. Kepastian itu akan dilakukan melalui tes DNA.
Rabu, 3 Desember 2014
Gadis Perawan yang Digilir Oleh 11 LELAKI.............
Polisi akan Lakukan Tes DNA setelah Bayi Lahir, 6 Pelaku Masih Buron

Pare-Pare,- Sungguh tragis nasib perawan AS (16), siswi sebuah SMK di Parepare, yang menjadi korban perkosaan 11 remaja, Agustus silam. Hasil visum terakhir yang dikeluarkan Polres Parepare, akibat perkosaan itu, korban positif hamil tiga bulan.

"Iya positif. Korban hamil tiga bulan sekarang. Kehamilannya kita duga kuat akibat perkosaan itu," terang Kepala Satuan Reskrim Polres Parepare AKP Nugraha Pamungkas, kepada Wartawan di Kejaksaan Negeri Parepare, Senin (1/12).
Nugraha menjelaskan, setelah positif hamil, penyidik tinggal menanti kelahiran sang jabang bayi untuk memastikan siapa dari 11 pelaku yang menjadi ayah dari bayi tersebut. Kepastian itu akan dilakukan melalui tes DNA.

"Kita akan lakukan tes DNA terhadap pada pelaku setelah bayi lahir nanti. Tapi enam pelaku masih buron, kita berharap bisa mengamankan mereka sebelum bayi itu lahir," jelasnya.

Kepastian kehamilan AS juga telah dikonfirmasi ke kejaksaan. Adapun solusi untuk enam pelaku yang masih buron, Nugraha menyatakan, akan memanggil orang tua mereka agar bisa berkomunikasi dengan anak-anaknya untuk menyerahkan diri secara baik-baik.

"Kami sudah memanggil para orang tua tersangka yang masih buron. Dan mereka mengaku siap menghadirkan anaknya, termasuk membantu proses pelimpahan kasusnya di kejaksaan," tutur Nugraha.

AS (16) menjadi korban perkosaan yang didalangi pacar sendiri. Ironisnya, sang pacar yang juga berstatus pelajar SMA itu, tega menyerahkan AS kepada 10 rekannya untuk ikut digilir.

Perkosaan ini dilaporkan AS ke Polres Parepare, Selasa 18 November. AS menuturkan ia diperkosa pacar dua kali di tempat berbeda. Perkosaan pertama terjadi di wilayah Cappa Galung, di mana ia digilir tiga pemuda termasuk sang pacar. Sedang kejadian berikutnya di Mattirotasi. Kali ini korban digilir delapan orang.

Polres Parepare mengonfirmasi, sehari setelah laporan korban diterima, petugas berhasil mengamankan lima pelaku. Tiga diantaranya ditangkap di salah satu warnet, di Jalan Mattirotasi, Parepare dan dua lainnya dijemput di sekolah, Rabu (19/11) pagi.

"Enam orang masih dalam pengejaran. Identitas mereka telah kita kantongi," terang Kaur Bin Ops Reskrim Polres Parepare Iptu Saharuddin, bulan lalu.

AS menuturkan, peristiwa ini terjadi sejak Agustus lalu. Korban mengaku baru melaporkannya sekarang karena merasa khawatir dirinya sedang hamil akibat perkosaan itu, AS menceritakan kejadiannya berawal dari perkenalannya dengan salah satu pelaku melalui BBM. Selanjutnya, hubungan mereka berlanjut dan AS mengakui berpacaran dengan yang bersangkutan.

Suatu hari mereka janjian bertemu di satu tempat di Cappa Galung. Tak disangka, AS diperkosa sang pacar. AS mengatakan, setelah perkosaan itu, tiba-tiba muncul dua rekan pacar AS dan memaksa AS melayani nafsu setannya.

Setelah kejadian itu, hubungan AS dan pacarnya masih berlanjut. Mereka kemudian bertemu lagi di Mattirotasi. Kali ini AS kembali dipaksa pacar melayaninya.seperti kejadian yang lalu, setelah puas memperkosa AS, tiba-tiba datang tujuh orang teman pacar AS dan menggilir gadis itu secara paksa.

Kepada penyidik, korban mengaku, pada kejadian berikutnya, ia kembali dipaksa berhubungan intim tapi dengan pelaku yang berbeda. Ada delapan orang yang disebutnya ikut memperkosanya waktu itu.
Sehari setelah penangkapan lima siswa SMA terduga pelaku perkosaan itu, Polres Parepare juga mengungkap keterlibatan anak seorang anggota DPRD Parepare dalam kasus tersebut.

Terduga pelaku berinisial AB (15) itu, bersama lima rekannya yang lain hingga kini masih buron. AB diketahui tercatat sebagai siswa kelas dua salah satu SMA ternama di Kota Parepare. Keterlibatan AB terungkap dari hasil pemeriksaan lima rekannya yang ditangkap.

"Benar, satu dari enam pelaku yang kita kejar adalah anak anggota DPRD Parepare. Ia disebut rekannya terlibat, termasuk hasil keterangan korban," terang Kaur Bin Ops Reskrim Polres Parepare Iptu Saharuddin, bulan lalu.

Setelah kejadian, pihak SMK Negeri 3 Parepare turut menurunkan tim investigasi untuk menyelidiki kasus perkosaan itu. Dari hasil penelusuran mereka, tim telah menemukan informasi baru dari beberapa rekan korban.
Dua rekan korban, BS dan DV menceritakan perkosaan yang menimpa AS.

Peristiwa ini kata mereka, terjadi pada Agustus lalu, waktu itu korban masih berstatus siswi SMP. Korban tercatat masuk SMA pada September 2014 setelah Lebaran Idhul Fitri atau sebulan setelah perkosaan itu.
Kata kedua sahabat korban, setelah berkenalan dan menjalin hubungan dengan salah satu pelaku, korban diajak ke suatu tempat. Awalnya, korban tidak diberitahu tempatnya di mana. Sampai kemudian ia dibawa ke salah satu kos di Cappa Galung. Di sana korban diajak masuk kamar.
Di dalam kamar ada beberapa orang, sedang dua orang berdiri di pintu. Setelah hampir satu jam berada di sana, korban minta pamit. Ia minta pacarnya mengantarnya pulang.

Tapi tiba-tiba dua orang pelaku berdiri menahannya dan ditarik masuk ke kamar. Selanjutnya, dua orang menutup pintu. Dua pelaku lalu memaksa melucuti pakaiannya. Korban berontak. Pelaku marah dan menampar korban berulang kali hingga ia menangis. Sementara yang lainnya memegangi tangan korban lalu mendorongnya ke tempat tidur.

Korban mengaku sempat melawan tapi ia tidak mampu karena pelakunya banyak. Disitulah perkosaan pertama kali terjadi.
Menurut pengakuan korban kepada kedua sahabatnya itu, dari 11 pelaku, tidak semua ikut memperkosanya. Ada yang sekadar ikut membantu memegangi tangannya dan ada juga yang hanya berdiri berjaga-jaga di pintu kamar.

Setelah diperkosa, korban menangis dan minta diantar pulang. Tapi para pelaku malah mengabaikannya. Dia sempat dibiarkan menangis sambil diolok-olok para pelaku. Menurut rekan korban, korban diantar dalam keadaan lemas.Korban tidak pernah bercerita kepada keluarganya, karena takut. Namun waktu masuk SMK, korban mencurahkan perasaannya pada sahabatnya karena ia mulai menemukan tanda-tanda kehamilan pada dirinya.

Kejadian tersebut baru diketahui setelah salah satu rekan korban menceritakan peristiwa itu kepada orang tua korban.
Sementara itu, Plt Kadis Pendidikan Parepare Husny Syam, meminta kepala sekolah agar berkoordinasi dengan pihak kepolisian agar kasus perkorsaan ini bisa tuntas dengan cepat.
"Sekecil apapun informasi dari kepsek harus dikoordinasikan ke polisi agarenam orang yang buron itu bisa segera ditangkap," pintanya. (ABS) "Kita akan lakukan tes DNA terhadap pada pelaku setelah bayi lahir nanti. Tapi enam pelaku masih buron, kita berharap bisa mengamankan mereka sebelum bayi itu lahir," jelasnya.
Kepastian kehamilan AS juga telah dikonfirmasi ke kejaksaan. Adapun solusi untuk enam pelaku yang masih buron, Nugraha menyatakan, akan memanggil orang tua mereka agar bisa berkomunikasi dengan anak-anaknya untuk menyerahkan diri secara baik-baik.
"Kami sudah memanggil para orang tua tersangka yang masih buron. Dan mereka mengaku siap menghadirkan anaknya, termasuk membantu proses pelimpahan kasusnya di kejaksaan," tutur Nugraha.
AS (16) menjadi korban perkosaan yang didalangi pacar sendiri. Ironisnya, sang pacar yang juga berstatus pelajar SMA itu, tega menyerahkan AS kepada 10 rekannya untuk ikut digilir.
Perkosaan ini dilaporkan AS ke Polres Parepare, Selasa 18 November. AS menuturkan ia diperkosa pacar dua kali di tempat berbeda.Perkosaan pertama terjadi di wilayah Cappa Galung, di mana ia digilir tiga pemuda termasuk sang pacar.
Sedang kejadian berikutnya diMattirotasi. Kali ini korban digilir delapan orang. Polres Parepare mengonfirmasi, sehari setelah laporan korban diterima, petugas berhasil mengamankan lima pelaku. Tiga diantaranya ditangkap di salah satu warnet, di Jalan Mattirotasi, Parepare dan dua lainnya dijemput di sekolah, Rabu (19/11) pagi.
"Enam orang masih dalam pengejaran. Identitas mereka telah kita kantongi," terang Kaur Bin Ops Reskrim Polres Parepare Iptu Saharuddin, bulan lalu.
AS menuturkan, peristiwa ini terjadi sejak Agustus lalu. Korban mengaku baru melaporkannya sekarang karena merasa khawatir dirinya sedang hamil akibat perkosaan itu, AS menceritakan kejadiannya berawal dari perkenalannya dengan salah satu pelaku melalui BBM. Selanjutnya, hubungan mereka berlanjut dan AS mengakui berpacaran dengan yang bersangkutan.
Suatu hari mereka janjian bertemu di satu tempat di Cappa Galung. Tak disangka, AS diperkosa sang pacar. AS mengatakan, setelah perkosaan itu, tiba-tiba muncul dua rekan pacar AS dan memaksa AS melayani nafsu setannya.
Setelah kejadian itu, hubungan AS dan pacarnya masih berlanjut. Mereka kemudian bertemu lagi di Mattirotasi. Kali ini AS kembali dipaksa pacar melayaninya.seperti kejadian yang lalu, setelah puas memperkosa AS, tiba-tiba datang tujuh orang teman pacar AS dan menggilir gadis itu secara paksa.
Kepada penyidik, korban mengaku, pada kejadian berikutnya, ia kembali dipaksa berhubungan intim tapi dengan pelaku yang berbeda. Ada delapan orang yang disebutnya ikut memperkosanya waktu itu.
Sehari setelah penangkapan lima siswa SMA terduga pelaku perkosaan itu, Polres Parepare juga mengungkap keterlibatan anak seorang anggota DPRD Parepare dalam kasus tersebut.
Terduga pelaku berinisial AB (15) itu, bersama lima rekannya yang lain hingga kini masih buron. AB diketahui tercatat sebagai siswa kelas dua salah satu SMA ternama di Kota Parepare. Keterlibatan AB terungkap dari hasil pemeriksaan lima rekannya yang ditangkap.
"Benar, satu dari enam pelaku yang kita kejar adalah anak anggota DPRD Parepare. Ia disebut rekannya terlibat, termasuk hasil keterangan korban," terang Kaur Bin Ops Reskrim Polres Parepare Iptu Saharuddin, bulan lalu.
Setelah kejadian, pihak SMK Negeri 3 Parepare turut menurunkan tim investigasi untuk menyelidiki kasus perkosaan itu. Dari hasil penelusuran mereka, tim telah menemukan informasi baru dari beberapa rekan korban.
Dua rekan korban, BS dan DV menceritakan perkosaan yang menimpa AS.
Peristiwa ini kata mereka, terjadi pada Agustus lalu, waktu itu korban masih berstatus siswi SMP. Korban tercatat masuk SMA pada September 2014 setelah Lebaran Idhul Fitri atau sebulan setelah perkosaan itu.
Kata kedua sahabat korban, setelah berkenalan dan menjalin hubungan dengan salah satu pelaku, korban diajak ke suatu tempat. Awalnya, korban tidak diberitahu tempatnya di mana. Sampai kemudian ia dibawa ke salah satu kos di Cappa Galung. Di sana korban diajak masuk kamar.
Di dalam kamar ada beberapa orang, sedang dua orang berdiri di pintu. Setelah hampir satu jam berada di sana, korban minta pamit. Ia minta pacarnya mengantarnya pulang.
Tapi tiba-tiba dua orang pelaku berdiri menahannya dan ditarik masuk ke kamar. Selanjutnya, dua orang menutup pintu. Dua pelaku lalu memaksa melucuti pakaiannya. Korban berontak. Pelaku marah dan menampar korban berulang kali hingga ia menangis. Sementara yang lainnya memegangi tangan korban lalu mendorongnya ke tempat tidur.
Korban mengaku sempat melawan tapi ia tidak mampu karena pelakunya banyak. Disitulah perkosaan pertama kali terjadi.
Menurut pengakuan korban kepada kedua sahabatnya itu, dari 11 pelaku, tidak semua ikut memperkosanya. Ada yang sekadar ikut membantu memegangi tangannya dan ada juga yang hanya berdiri berjaga-jaga di pintu kamar.
Setelah diperkosa, korban menangis dan minta diantar pulang. Tapi para pelaku malah mengabaikannya. Dia sempat dibiarkan menangis sambil diolok-olok para pelaku. Menurut rekan korban, korban diantar dalam keadaan lemas.Korban tidak pernah bercerita kepada keluarganya, karena takut. Namun waktu masuk SMK, korban mencurahkan perasaannya pada sahabatnya karena ia mulai menemukan tanda-tanda kehamilan pada dirinya.
Kejadian tersebut baru diketahui setelah salah satu rekan korban menceritakan peristiwa itu kepada orang tua korban.
Sementara itu, Plt Kadis Pendidikan Parepare Husny Syam, meminta kepala sekolah agar berkoordinasi dengan pihak kepolisian agar kasus perkorsaan ini bisa tuntas dengan cepat.
"Sekecil apapun informasi dari kepsek harus dikoordinasikan ke polisi agarenam orang yang buron itu bisa segera ditangkap," pintanya. (ABS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar