Rabu, 10 Desember 2014

Guru Fisika ini Mendapatkan Hidayah Karena Mendengar Lantunan Adzan

Media Pembaharuan Klaten,- Hidayah adalah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mendapat hidayah kepada Islam, maka sungguh ia telah mendapat kenikmatan yang besar. Begitulah yang dirasakan Erlin Tri Murtini S.Pd, perempuan yang sehari-harinya mengajar fisika di SMA N 1 Wonosari Klaten ini sudah sekitar 4 tahun lalu memeluk Islam.
Bu Erlin (sapaannya sehari-hari) sejak kecil beragama katolik dan didik dalam nuansa katolik yang kental. “Saya berasal dari keluarga katolik, ayah dan ibu saya agamanya tidak jelas. Saya sejak TK hingga SMP saya bersekolah di sekolah katolik, saya tidak tau kalau ada agama Islam sampai saya SMA, karena ketika itu SMA saya di SMA negeri.” Begitulah penuturannya kepada kami, mantan murid yang pada hari Ahad (3/8) yang lalu bersilaturahim ke rumahnya di Perum Widorosari, Kartasura.
Dalam kesehariannya Bu Erlin dikenal dikalangan teman-teman sesama guru sebagai seorang katolik yang taat. Pernah suatu ketika ia ditegur oleh salah seorang rekan seprofesinya yang mengajar Pendidikan Agama Islam (PAI) karena terlalu seringnya berdoa (membentuk salib) ketika hendak beraktifitas, namun ia cuek saja seperti tidak terjadi apa-apa. “Saya kan gak salah, ya sudah saya diam saja,” katanya sembari tertawa ringan.
Kamis, 11 Desember 2014
Guru Fisika ini Mendapatkan Hidayah Karena Mendengar Lantunan Adzan

Media Pembaharuan,- Hidayah adalah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mendapat hidayah kepada Islam, maka sungguh ia telah mendapat kenikmatan yang besar. Begitulah yang dirasakan Erlin Tri Murtini S.Pd, perempuan yang sehari-harinya mengajar fisika di SMA N 1 Wonosari Klaten ini sudah sekitar 4 tahun lalu memeluk Islam.

Bu Erlin (sapaannya sehari-hari) sejak kecil beragama katolik dan didik dalam nuansa katolik yang kental. “Saya berasal dari keluarga katolik, ayah dan ibu saya agamanya tidak jelas. Saya sejak TK hingga SMP saya bersekolah di sekolah katolik, saya tidak tau kalau ada agama Islam sampai saya SMA, karena ketika itu SMA saya di SMA negeri.” Begitulah penuturannya kepada kami, mantan murid yang pada hari Ahad (3/8) yang lalu bersilaturahim ke rumahnya di Perum Widorosari, Kartasura.

Dalam kesehariannya Bu Erlin dikenal dikalangan teman-teman sesama guru sebagai seorang katolik yang taat. Pernah suatu ketika ia ditegur oleh salah seorang rekan seprofesinya yang mengajar Pendidikan Agama Islam (PAI) karena terlalu seringnya berdoa (membentuk salib) ketika hendak beraktifitas, namun ia cuek saja seperti tidak terjadi apa-apa. “Saya kan gak salah, ya sudah saya diam saja,” katanya sembari tertawa ringan.

Sebagai jemaat yang taat, Bu Erlin tak pernah absen mengikuti misa dan kebaktian di gereja layaknya umat katolik pada umumnya. Bible pun juga menjadi bacaan wajibnya sehari-hari. “ Saya yo ikut misa ke gereja, sering berdoa, dan membaca alkitab namun semua itu rasanya anyep (dingin, hambar)”. Tak pernah terlintas di benaknya untuk menjadi seorang muslimah, sampai pada suatu ketika Bu Erlin melihat tetangganya yang meski sudah berusia lanjut namun selalu bergegas menuju masjid begitu mendengar seruan adzan, begitu takjubnya dengan tetangganya yang seorang pensiunan TNI ini sampai-sampai Bu Erlin menyebutnya sebagai malaikat. Dari sinilah awal ketertarikannya kepada Islam, setiap mendengar lantunan adzan ia selalu menyempatkan diri untuk berdoa. “setiap dengar adzan saya selalu berdoa, meski berdoanya masih dengan cara katolik. Saya sudah cukup lama begini, saya juga tidak tahu, dorongan untuk berdoa setelah mendengar adzan begitu kuat, sampai saya takut sekali jika tidak berdoa,” ungkapnya kepada kami.

Setiap hendak ke gereja Bu Erlin memperhatikan orang-orang yang shalat di masjid (kebetulan di dekat gereja ada masjid), ia merasa takjub melihatnya, seakan-akan mereka itu adalah orang suci. Akhirnya setiap hendak ke gereja justru muncul dorongan yang begitu kuat untuk masuk masjid, namun ia masih takut dengan respon umat islam yang Identik dengan terorisme. “ Saya takut dipukuli nanti kalau orang-orang yang di masjid melihat saya, makanya saya tidak berani ke masjid, padahal saya ingin sekali.” Jelasnya.

Akhirnya setelah mantap dengan apa yang diyakini hatinya Bu Erlin memutuskan untuk masuk Islam, tetapai ia kebingungan kepada siapa ia harus meminta bimbingan. Akhirnya ia menemui tetangganya yang sering dilihatnya pergi ke masjid, atas bantuan dari tetangganya, Bu erlin dipertemukan dengan seoarang ustadz yang membimbingnya mengucap dua kalimat syahadat.

Setelah menjadi seoarang muslimah Bu Erlin mulai belajar Al Qur’an. Sungguh semakin mantap keyakinannya setelah membaca kitab suci umat Islam tersebut didapati semua pertanyaan yang selama ini ia cari jawabannya. “Selama ini saya mencari nasehat dalam hidup, tapi dalam injil yang saya temui hanya kisah-kisah,” terangnya. Bu Erlin selalu bersemangat menjalankan syariat Islam yang terdapat dalam Al Qur’an seperti berhijab, shalat dan puasa. Alhamdulillah saat kami berkunjung, kami bisa menunaikan shalat dzuhur bersama Bu Erlin. Tidak hanya ibadah wajib, Bu Erlin juga semangat mengerjakan ibadah sunnah. Bahkan Bu Erlin bercerita kepada kami tidak bisa berhenti membaca Al Qur’an sebelum matanya lelah. Subhanallah

Ada pengalaman menarik setelah berislam yang ia bagikan kepada kami. “Ketika itu saya baru masuk Islam dan ikut shalat subuh untuk pertama kalinya. Setelah selesai shalat, dalam perjalanan pulang tiba-tiba hati saya menjadi padang (terang),” tuturnya. Saat duduk tasyahud ketika sahat tahajud rasanya seperti ada benda berat yang jatuh di atas kepala saya sebanyak tiga kali, .jleg,.jleg,.jleg, gitu,” ungkap muslimah yang hampir tidak pernah melewatkan shalat tahajud ini. “ Setelah itu tiba-tiba saya jadi ringan sekali,” imbuhnya

Bu Erlin mengatakan merasa nyaman dengan keyakinannya sekarang, tidak merasa takut atau khawatir meski banyak celaan dan penetangan yang ia dapati. Saat ini ia sedang dalam masa percereaian dengan suaminya. Meski begitu ia berpesan kepada kami untuk tetap menjaga shalat dan agar selalu berbuat baik kepada orangtua dan non muslim, karena salah satu yang membuatnya tertarik kepada Islam adalah akhlak umat Islam yang luhur. Dikirim oleh Ikhwan Al-Hasan. (ABS)
Photo Saat Adzan diKomandangkan
Sebagai jemaat yang taat, Bu Erlin tak pernah absen mengikuti misa dan kebaktian di gereja layaknya umat katolik pada umumnya. Bible pun juga menjadi bacaan wajibnya sehari-hari. “ Saya yo ikut misa ke gereja, sering berdoa, dan membaca alkitab namun semua itu rasanya anyep (dingin, hambar)”. Tak pernah terlintas di benaknya untuk menjadi seorang muslimah, sampai pada suatu ketika Bu Erlin melihat tetangganya yang meski sudah berusia lanjut namun selalu bergegas menuju masjid begitu mendengar seruan adzan, begitu takjubnya dengan tetangganya yang seorang pensiunan TNI ini sampai-sampai Bu Erlin menyebutnya sebagai malaikat. Dari sinilah awal ketertarikannya kepada Islam, setiap mendengar lantunan adzan ia selalu menyempatkan diri untuk berdoa. “setiap dengar adzan saya selalu berdoa, meski berdoanya masih dengan cara katolik. Saya sudah cukup lama begini, saya juga tidak tahu, dorongan untuk berdoa setelah mendengar adzan begitu kuat, sampai saya takut sekali jika tidak berdoa,” ungkapnya kepada kami.
Setiap hendak ke gereja Bu Erlin memperhatikan orang-orang yang shalat di masjid (kebetulan di dekat gereja ada masjid), ia merasa takjub melihatnya, seakan-akan mereka itu adalah orang suci. Akhirnya setiap hendak ke gereja justru muncul dorongan yang begitu kuat untuk masuk masjid, namun ia masih takut dengan respon umat islam yang Identik dengan terorisme. “ Saya takut dipukuli nanti kalau orang-orang yang di masjid melihat saya, makanya saya tidak berani ke masjid, padahal saya ingin sekali.” Jelasnya.
Akhirnya setelah mantap dengan apa yang diyakini hatinya Bu Erlin memutuskan untuk masuk Islam, tetapai ia kebingungan kepada siapa ia harus meminta bimbingan. Akhirnya ia menemui tetangganya yang sering dilihatnya pergi ke masjid, atas bantuan dari tetangganya, Bu erlin dipertemukan dengan seoarang ustadz yang membimbingnya mengucap dua kalimat syahadat.
Setelah menjadi seoarang muslimah Bu Erlin mulai belajar Al Qur’an. Sungguh semakin mantap keyakinannya setelah membaca kitab suci umat Islam tersebut didapati semua pertanyaan yang selama ini ia cari jawabannya. “Selama ini saya mencari nasehat dalam hidup, tapi dalam injil yang saya temui hanya kisah-kisah,” terangnya. Bu Erlin selalu bersemangat menjalankan syariat Islam yang terdapat dalam Al Qur’an seperti berhijab, shalat dan puasa. Alhamdulillah saat kami berkunjung, kami bisa menunaikan shalat dzuhur bersama Bu Erlin. Tidak hanya ibadah wajib, Bu Erlin juga semangat mengerjakan ibadah sunnah. Bahkan Bu Erlin bercerita kepada kami tidak bisa berhenti membaca Al Qur’an sebelum matanya lelah. Subhanallah
Ada pengalaman menarik setelah berislam yang ia bagikan kepada kami. “Ketika itu saya baru masuk Islam dan ikut shalat subuh untuk pertama kalinya. Setelah selesai shalat, dalam perjalanan pulang tiba-tiba hati saya menjadi padang (terang),” tuturnya. Saat duduk tasyahud ketika sahat tahajud rasanya seperti ada benda berat yang jatuh di atas kepala saya sebanyak tiga kali, .jleg,.jleg,.jleg, gitu,” ungkap muslimah yang hampir tidak pernah melewatkan shalat tahajud ini. “ Setelah itu tiba-tiba saya jadi ringan sekali,” imbuhnya
Bu Erlin mengatakan merasa nyaman dengan keyakinannya sekarang, tidak merasa takut atau khawatir meski banyak celaan dan penetangan yang ia dapati. Saat ini ia sedang dalam masa percereaian dengan suaminya. Meski begitu ia berpesan kepada kami untuk tetap menjaga shalat dan agar selalu berbuat baik kepada orangtua dan non muslim, karena salah satu yang membuatnya tertarik kepada Islam adalah akhlak umat Islam yang luhur. Dikirim oleh Ikhwan Al-Hasan. (ABS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar